Edisi malam jumat, Tim GrivMedia
GrivMedia — Sosok yang selama ini dikenal sebagai preman kampung di sebuah desa, mendadak berubah haluan. Pria yang biasanya garang, vokal, dan ditengarai menjadi kaki tangan bandar narkoba setempat itu kini lebih sering terlihat diam termenung di sudut warung kopi, terutama sejak insiden malam Jumat pekan lalu.
Peristiwa itu terjadi di jalan setapak yang sunyi, tak jauh dari pemukiman. Menurut kesaksian warga, sang preman tengah pulang dalam kondisi sempoyongan. Di tengah jalan, langkahnya terhenti oleh penampakan sosok misterius: seorang perempuan berambut panjang, mengenakan baju putih, berdiri melayang tanpa menyentuh tanah.
“Awalnya dia umpat-umpat seperti biasa, tapi setelah sadar itu bukan manusia, wajahnya langsung putih kayak bedak murahan,” ujar seorang saksi mata, warga setempat yang saat itu sedang memperbaiki antena TV.
Biasanya lantang dan kasar bikin kambing gugup, malam itu suaranya berubah pelan dan ragu. “Dia minta maaf. Bukan ke tetangga atau orang tua, tapi ke makhluk itu,” ujar warga lain, terkekeh.
Esok paginya, preman itu tak keluar rumah. Tak ada suara keras, tak ada ancaman, tak ada aroma minuman keras. Ia baru terlihat kembali beberapa hari kemudian, duduk sendiri di sudut warung kopi, menatap gelas yang sudah dingin, seperti merenungi ulang hidupnya yang nyaris dihentikan oleh entitas dari alam lain.
“Rapat RT, teguran, dan razia berkali-kali tak mempan. Tapi satu penampakan, selesai sudah,” ujar seorang ibu sambil mengaduk tehnya. Sebagian warga bahkan usul, setengah serius, agar sosok tersebut diangkat jadi Satgas Keamanan Lingkungan.
Meski kisah ini tak bisa diverifikasi secara ilmiah, satu hal tak terbantahkan: perubahan preman kampung itu terasa nyata. Kadang, bukan logika atau hukum yang sanggup mengubah seseorang, melainkan ketakutan yang datang dari tempat tak terduga, di waktu yang paling pas.












