Pagi baru saja membuka mata. Jalanan belum terlalu ramai. Di warung kopi dekat ujung simpang, asap kopi hitam mengepul pelan.…
Baca Selengkapnya

Pagi baru saja membuka mata. Jalanan belum terlalu ramai. Di warung kopi dekat ujung simpang, asap kopi hitam mengepul pelan.…
Baca Selengkapnya
Malam itu listrik padam. Tak ada angin kencang, tak ada hujan. Entah karena apa. Orang-orang di kampung hanya saling pandang…
Baca Selengkapnya
Asap kopi hitam mengepul dari gelas. Hujan baru saja berhenti. Di warung kopi ujung simpang itu, televisi tua masih menyiarkan…
Baca Selengkapnya
Oleh: Haryanto Napitupulu Muliaraja XIX Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan opini penulis. Seluruh pandangan, argumentasi, dan kesimpulan yang disampaikan adalah…
Baca Selengkapnya
Pagi kembali datang ke ruang perawatan. Ia tidak mengetuk pintu. Ia tidak mengucapkan salam. Ia hanya hadir melalui seberkas cahaya…
Baca Selengkapnya
Mangopi, Makkatai, Mangaramoti. Warung kopi itu penuh. Suara kursi bergeser, denting sendok menyentuh gelas, dan aroma kopi hitam yang mengepul…
Baca Selengkapnya
Warung kopi di sudut kampung itu masih ramai meski malam mulai turun. Asap kopi hitam bercampur aroma rokok menggantung di…
Baca Selengkapnya
Sore itu langit tampak redup kekuningan. Di warung kopi pinggir jalan, kipas tua berputar pelan mengusir gerah. Bau kopi hitam…
Baca Selengkapnya
“Don… pernah kau bayangkan kalau kita tiba-tiba hidup macam orang di Timur Tengah itu?” Ucok menyender di kursi plastik. Lampu…
Baca Selengkapnya
Ada orang-orang yang diciptakan Tuhan dengan hati yang tak biasa. Ia salah satunya. Aku mengenalnya sebagai pribadi yang selalu peduli…
Baca Selengkapnya