Advertisement

Cakap-Cakap Mardongan: Pancasila Tak Pernah Pensiun

Cakap-Cakap Mardongan: Pancasila Tak Pernah Pensiun

Mangopi, Makkatai, Mangaramoti.

Warung kopi itu penuh.

Suara kursi bergeser, denting sendok menyentuh gelas, dan aroma kopi hitam yang mengepul bercampur dengan obrolan pelanggan yang datang silih berganti. Di dinding tergantung bendera Merah Putih. Di televisi sudut ruangan, berita tentang Hari Lahir Pancasila terus berulang.

Mardongan duduk seperti biasa.

Kali ini kemejanya rapi. Secangkir kopi panas berada di depannya. Di sekelilingnya, orang-orang berbicara tentang harga sembako, sepak bola, politik, dan urusan hidup yang tak pernah habis.

Ucok datang sambil tertawa.

“Ramai kali hari ini, Don.”

“Namanya juga warung kopi. Kantor kedua rakyat.”

Ucok menarik kursi.

“Hahaha… ada-ada saja kau.”

Mardongan menunjukkan layar telepon genggamnya.

“Hari Lahir Pancasila.”

Ucok mengangguk.

“Iya. Satu Juni.”

Mardongan menatap jalanan di luar.

“Kadang aku mikir, Cok.”

“Mikir apa laginya kau?”

“Orang sekarang masih mengingat Pancasila atau tinggal mengingat tanggal merahnya saja?”

Ucok terdiam sesaat.

Pertanyaan itu sederhana, tetapi tidak ringan.

Di meja sebelah, beberapa pemuda memperdebatkan klub sepak bola favorit mereka. Tak jauh dari sana, dua orang bapak yang berbeda pilihan saat pemilu tetap tertawa sambil menikmati kopi yang sama.

Warung kopi selalu punya cara menunjukkan wajah Indonesia yang sebenarnya.

Berbeda-beda. Tetapi tetap duduk semeja.

“Pancasila itu sebenarnya dekat kali dengan kehidupan sehari-hari,” kata Ucok.

“Kekmananya maksudmu?”

“Sederhana saja. Menghormati orang lain. Tidak memandang rendah karena beda suku. Tidak membenci karena beda agama. Tidak memutus persaudaraan karena beda pilihan.”

Mardongan tersenyum.

“Berarti yang susah bukan menghafalnya.”
“Tapi menjalankannya.”

“Nah, itu dia.”

Mereka tertawa kecil.

Di luar, matahari mulai naik. Kota bergerak dengan segala perbedaannya.

Ada yang datang dari Jawa. Ada yang Batak. Ada yang Minang. Ada yang Bugis. Ada yang Melayu. Ada yang Tionghoa.

Namun semuanya menyebut dirinya dengan satu nama yang sama: Indonesia.

“Itulah yang luar biasa dari kita ini,” kata Mardongan.

Ucok mengangguk.

“Dari Sabang sampai Merauke, berbeda-beda tetapi tetap satu.”

Dari meja paling ujung, seorang bapak paruh baya yang sejak tadi mendengar ikut menyahut.

“Karena ada yang menyatukan.”

“Pancasila?” tanya Ucok.

Bapak itu tersenyum.
“Dulu orang tua kami bilang, boleh beda pendapat, tapi jangan putus silaturahmi.”

Warung kopi mendadak terasa lebih tenang.

Kalimat itu sederhana. Tetapi terasa lebih kuat daripada status media sosial sepanjang tiga layar.

Ucok mengaduk kopinya perlahan.

“Kadang yang membuat gaduh bukan perbedaannya.”
“Tapi cara kita menghadapi perbedaan itu,” sambung Mardongan.

“Nah, pas kali itu.”

Mereka tertawa.

Tak lama kemudian Mardongan mengangkat cangkir kopinya.

“Kalau dipikir-pikir, kopi ini mirip Indonesia.”

Ucok mengernyit.

“Kenapa pula?”

“Karena enaknya justru dari campuran.”

Ucok tertawa keras.

“Kalau semuanya gula, tak bisa diminum.”
“Kalau semuanya kopi, pahit.”
“Kalau semuanya air, hambar.”
“Kalau semuanya janji politik?”

Ucok langsung menyambar.

“Ya tunggu pemilu berikutnya lagi kita minum hasilnya.”

Warung kopi pun pecah oleh tawa.

Namun di balik percakapan sederhana itu tersimpan satu pelajaran yang tak pernah usang.

Bahwa keberagaman bukan ancaman. Keberagaman adalah kekuatan.

Di tengah dunia yang masih dipenuhi konflik dan perpecahan, Pancasila tetap menjadi rumah bersama yang mengajarkan bahwa persatuan tidak dibangun dari kesamaan, melainkan dari kesediaan untuk saling menghormati.

Ucok memandang bendera Merah Putih yang tergantung di dinding.

“Jadi sebenarnya tugas Pancasila belum selesai ya, Don?”

Mardongan tersenyum. Lalu menyeruput kopinya perlahan.

“Pancasila tak pernah pensiun.”

“Selama negeri ini masih ada, selama itu pula ia dibutuhkan.”

Warung kembali riuh.

Pesanan kopi berdatangan. Percakapan berganti ke urusan lain. Namun satu hal tetap tinggal di atas meja warung.

Indonesia mungkin besar karena wilayahnya. Tetapi tetap berdiri karena nilai-nilai yang menjaganya.

Refleksi Kopi

Pancasila bukan sekadar teks yang dibacakan saat upacara atau simbol yang dipasang pada peringatan nasional. Ia adalah nilai hidup yang menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan pandangan.

Di era digital yang sering memperbesar perbedaan, Pancasila tetap relevan sebagai pedoman untuk menjaga toleransi, gotong royong, dan keadilan sosial.

Karena itulah, setiap Hari Lahir Pancasila bukan hanya tentang mengenang sejarah.

Melainkan mengingat kembali alasan mengapa Indonesia tetap utuh hingga hari ini.

Sebab benar kata Mardongan:

“Pancasila tak pernah pensiun.”

Catatan Redaksi

Rubrik Cakap-Cakap Mardongan merupakan dialog reflektif berlatar warung kopi khas Sumatera Utara. Tokoh, percakapan, dan situasi yang ditampilkan bersifat fiksi sosial yang digunakan sebagai medium refleksi atas berbagai fenomena kebangsaan, sosial, budaya, dan kehidupan masyarakat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *