Asap kopi hitam mengepul dari gelas. Hujan baru saja berhenti. Di warung kopi ujung simpang itu, televisi tua masih menyiarkan pidato seorang pimpinan kampung. Beberapa orang berhenti mengobrol, lalu saling pandang.
Ucok: “Don… kau dengarnya itu tadi?”
Mardongan: “Yang mana pula itu, Cok?”
Ucok: “Itu lah… para pengawas kampung disindir. Dibilang londo ireng.”
Mardongan meletakkan gelasnya pelan.
Mardongan: “Oh… kudengar juga itu.”
Ucok menggeleng.
Ucok: “Bahasanya keras kali bah.”
Mardongan: “Kalau bahasanya sudah keras, biasanya orang lebih ingat kata-katanya daripada isi pesannya.”
Di meja sebelah, seorang bapak tersenyum tipis sambil menyeruput kopi.
Ucok: “Katanya lagi, ada yang hobinya menurunkan semangat kampung.”
Mardongan: “Mengkritik belum tentu membenci.”
Ucok: “Nah, itu dia.”
Mardongan mengambil sebatang rokok.
Mardongan: “Cok, kalau rumah kita bocor, orang yang pertama bilang atapnya bocor itu musuh rumah… atau penyelamat rumah?”
Ucok tertawa kecil.
Ucok: “Kalau dipikir-pikir… ya penyelamat lah.”
Mardongan: “Nah.”
Warung mulai hening.
Ucok: “Tapi istilah londo ireng itu memang bikin ramai bah.”
Mardongan: “Karena istilah itu bukan lahir kemarin sore.”
Ucok: “Dari zaman Belanda, kan?”
Mardongan: “Iya lah, istilah itu pernah dipakai untuk menyebut pribumi yang membantu kepentingan pemerintahan kolonial.”
Ucok mengangguk.
Ucok: “Makanya sekarang orang ramai memperdebatkan penggunaannya.”
Mardongan: “Wajar lah.”
Ucok: “Netizen pun mulai bertanya-tanya.”
Mardongan: “Namanya juga ruang publik. Orang bebas bertanya, asal jangan menuduh.”
Ucok menggeser telepon genggamnya.
Ucok: “Ada pula yang bilang, kalau ukuran cinta kampung dilihat dari hubungan dengan dunia luar, pendidikan luar negeri, atau kerja sama internasional, nanti makin panjang pula perdebatannya.”
Mardongan tersenyum.
Mardongan: “Itulah makanya jangan gampang membuat ukuran.”
Ucok: “Kenapa?”
Mardongan: “Karena pendidikan di luar negeri bukan otomatis jadi tak cinta kampung. Kerja sama dengan pihak luar juga bukan otomatis jadi mengabdi ke pihak luar.”
Ucok: “Begitu juga kritik?”
Mardongan: “Nah… itu yang sering lupa dipahami banyak orang.”
Seorang pelanggan yang sejak tadi diam akhirnya ikut nimbrung.
Pelanggan: “Kalau begitu, siapa sebenarnya para pengawas kampung itu?”
Mardongan: “Siapa saja yang menjalankan fungsi mengingatkan lah. Bisa media, akademisi, organisasi masyarakat, bahkan warga biasa yang menyampaikan kritik dengan data.”
Pelanggan: “Berarti bukan musuh?”
Mardongan: “Kalau kritiknya jujur dan berdasarkan fakta, ya bukan lah.”
Ucok tersenyum sambil mengangkat gelas.
Ucok: “Berarti kampung yang sehat bukan kampung yang sepi kritik.”
Mardongan: “Betul.”
Ucok: “Terus kampung yang bagaimana?”
Mardongan: “Kampung yang kalau dikritik, dijawab dengan data. Kalau difitnah, dijawab dengan hukum. Kalau dipuji, jangan cepat terlena.”
Warung langsung pecah oleh tawa.
Ucok: “Waduh… itu pedas kali, Don.”
Mardongan: “Bukan pedas.”
Ucok: “Terus?”
Mardongan: “Itu kopi. Memang pahit, tapi bikin melek.”
Ucok tertawa lepas.
Sebelum berdiri, Mardongan menepuk pundaknya.
Mardongan: “Ingat ya, Cok.”
Ucok: “Apa lagi?”
Mardongan: “Kalau semua orang yang mengingatkan dianggap lawan, lama-lama tak ada lagi yang berani bilang jalan di depan berlubang.”
Ucok mengangguk pelan.
Di luar, gerimis kembali turun.
Di dalam warung, kopi tinggal setengah gelas.
Tapi pertanyaan yang menggantung masih penuh.
Refleksi Kopi
Dalam setiap kampung, pemimpin memiliki hak menjelaskan kebijakannya. Pada saat yang sama, para pengawas kampung yang menyampaikan kritik secara bertanggung jawab, juga menjalankan fungsi kontrol sosial penting dalam kehidupan demokratis.
Istilah “londo ireng” memiliki latar sejarah yang berkaitan dengan masa kolonial. Ketika istilah tersebut dipakai dalam perdebatan politik masa kini, maknanya dapat dipahami secara berbeda oleh berbagai kalangan. Karena itu, ruang publik sebaiknya diisi dengan argumen, data, dan bukti, bukan sekadar label.
Seperti kata orang tua di kampung, “kalau cermin memperlihatkan wajah kusut, jangan cerminnya yang dimarahi.”
Keterangan Redaksi
Rubrik Cakap-Cakap Mardongan merupakan dialog fiksi berlatar warung kopi khas Sumatera Utara. Tokoh, percakapan, dan alur disusun untuk merefleksikan fenomena sosial dan dinamika wacana publik. Rubrik ini tidak dimaksudkan sebagai pernyataan fakta mengenai individu tertentu, melainkan sebagai ruang refleksi.












