Advertisement

Cakap-Cakap Mardongan: Kurban Atas Nama Siapa?

Cakap-Cakap Mardongan: Kurban Atas Nama Siapa?

Sore itu langit tampak redup kekuningan.

Di warung kopi pinggir jalan, kipas tua berputar pelan mengusir gerah. Bau kopi hitam bercampur aroma pisang goreng memenuhi udara. Suara azan Asar baru saja lewat ketika Ucok meletakkan ponselnya di atas meja.

“Don… sekarang orang bukan ribut soal sapinya.”

Mardongan mengangkat kepala.

“Jadi apa?”

“Yang diributkan itu… kurbannya atas nama siapa.”

Di luar warung, becak motor meraung melewati jalan berlubang yang masih basah bekas hujan pagi tadi.

Mardongan menyeruput kopi perlahan.

“Katanya dananya dari negara ya?”

Ucok mengangguk.

“Dari pos bantuan kemasyarakatan. Resmi memang. Ada dalam anggaran negara.”

“Berarti uang rakyat.”

“Iya.”

Warung kopi mendadak hening beberapa detik.

Seorang bapak tua di meja sebelah ikut menyahut sambil melipat koran.

“Makanya publik bertanya.”
“Kalau sumbernya negara, kenapa kesannya seperti bantuan pribadi?”

Ucok tersenyum tipis.

“Di situlah orang jadi sensitif.”

Mardongan menatap jalan yang mulai ramai menjelang magrib.

“Apalagi ekonomi lagi susah.”

“Harga kebutuhan naik.”
“Kerja susah.”
“Rupiah melemah.”

Ucok menghela napas.

“Jadi apapun sekarang bisa mancing pertanyaan.”

Di sudut warung, televisi kecil menyiarkan pembagian sapi kurban ke berbagai daerah. Beberapa pelanggan melirik sebentar lalu kembali sibuk dengan obrolan masing-masing.

“Padahal kurban itu ibadah tentang keikhlasan,” kata bapak tua tadi pelan.
“Bukan soal siapa paling terlihat.”

Kalimat itu membuat meja mereka kembali diam.

Mardongan mengaduk kopi yang mulai dingin.

“Rakyat sebenarnya tak anti pemerintah.”

“Pas.”

“Tapi rakyat mau kejelasan.”
“Mana fasilitas negara.”
“Mana pencitraan politik.”
“Mana bantuan pribadi.”

Ucok mengangguk cepat.

“Karena kalau semua dibungkus nama kekuasaan, lama-lama negara terasa seperti milik segelintir orang.”

Suasana sore makin temaram.
Lampu warung mulai dinyalakan satu per satu.

Seorang pemuda yang sedari tadi bermain ponsel tiba-tiba ikut bicara.

“Yang bikin orang makin gelisah itu karena banyak kali program besar sekarang terasa minim pengawasan.”

“MBG itu contohnya,” sahut Ucok.
“Tapi di lapangan banyak keluhan.”

“Kalau rakyat melihat anggaran besar tapi hasilnya tak rapi,” lanjut pemuda itu,
“kepercayaan publik ikut terkikis.”

Warung kopi kembali riuh oleh suara sendok dan gelas.

Namun di balik obrolan sederhana itu, tersimpan kegelisahan yang lebih dalam: tentang arah negara, tentang penggunaan uang rakyat, dan tentang batas tipis antara pelayanan publik dengan pencitraan kekuasaan.

Di luar, langit sore perlahan berubah gelap.

Ucok menatap jalan sambil tersenyum kecil.

“Bapak itu sedang diuji sejarah sekarang.”

Mardongan mengangguk.

“Dan rakyat sedang menguji ketulusannya.”

Refleksi Kopi

Polemik sapi kurban yang dibiayai anggaran negara menunjukkan bahwa masyarakat hari ini semakin kritis terhadap penggunaan simbol kekuasaan dalam program publik.

Secara administratif, penggunaan dana bantuan kemasyarakatan memang memiliki dasar anggaran negara. Namun di tengah kondisi ekonomi yang berat, publik menjadi lebih peka terhadap bagaimana bantuan negara dikomunikasikan kepada masyarakat.

Kurban dalam nilai keagamaan sejatinya identik dengan keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian sosial. Karena itu, ketika ibadah sosial bersentuhan dengan kekuasaan dan anggaran publik, transparansi menjadi sangat penting agar tidak memunculkan kesan personalisasi bantuan negara.

Di sisi lain, keresahan publik juga dipengaruhi oleh konteks yang lebih luas: tekanan ekonomi, komunikasi pejabat yang dinilai kurang empatik, hingga berbagai program besar pemerintah yang dianggap belum sepenuhnya matang dalam pengawasan.

Dalam negara demokrasi, pertanyaan masyarakat terhadap penggunaan uang rakyat bukan bentuk permusuhan terhadap pemerintah. Itu adalah bagian dari hak publik untuk memastikan bahwa anggaran negara dikelola secara terbuka, proporsional, dan tidak bercampur dengan kepentingan pencitraan politik.

Sebab kepercayaan rakyat tidak dibangun hanya melalui program besar, tetapi juga melalui keteladanan dalam menjaga batas antara kekuasaan dan kepentingan publik.

Keterangan Redaksi

Rubrik Cakap-Cakap Mardongan merupakan dialog reflektif berlatar warung kopi khas Sumatera Utara. Tokoh dan percakapan bersifat fiksi sosial yang merepresentasikan dinamika dan keresahan publik terhadap isu sosial-politik, tanpa merujuk pada individu tertentu.