Advertisement

Cakap-Cakap Mardongan: Seekor Ayam, Seorang Ayah, Bah… Keadilan Kok Terasa Jauh Kali?

Ilustrasi dua pria berbincang di warung kopi Sumatera Utara pada malam hari membahas keadilan hukum, aksi main hakim sendiri, dan pentingnya supremasi hukum di Indonesia.

Malam itu listrik padam. Tak ada angin kencang, tak ada hujan. Entah karena apa. Orang-orang di kampung hanya saling pandang sambil bergumam, “Mungkin pasokan listrik lagi kurang.”

Warung kopi di simpang jalan yang biasa jadi markas nongkrong pun mulai bersiap tutup. Lampu teplok yang digantung di tiang kayu bergoyang pelan diterpa angin malam. Asap rokok bercampur aroma kopi hitam memenuhi udara. Sesekali suara knalpot dari jalan besar memecah sunyi.

Ucok masih bertahan di teras warung. Di hadapannya tinggal segelas kopi yang sudah mulai dingin.

Di atas meja, sebuah handphone masih menyala. Sebuah berita memenuhi layar.

Tak lama kemudian Mardongan datang.

Ia menarik kursi plastik, lalu duduk di samping Ucok.

Mardongan: “Bah… belum pulang kau rupanya, Cok.”

Ucok: “Sebentar lagi lah, Don. Sekalian orang warung ini tutup. Tapi habis kubaca berita ini… sesak kali rasanya dadaku.”

Mardongan melirik layar handphone itu.

Mardongan: “Yang bapak dituduh maling ayam itu, ya?”

Ucok mengangguk pelan.

Ucok: “Iya bah. Belum tentu pula terbukti apa salahnya, tapi sekampung sudah jadi hakim semua.”

Mardongan menghela napas panjang.

Mardongan: “Sampai hilang nyawanya pula.”

Ucok menggeleng pelan.

Ucok: “Yang paling menusuk hatiku bukan itu, Don.”

Mardongan: “Apanya lagi?”

Ucok menggeser layar handphone.

Terlihat foto seorang anak perempuan menangis sambil memanggil ayahnya.

Mardongan langsung terdiam.

Ucok: “Lihatlah bah… masih kecil kali anak itu.”

Mardongan: “Ya Allah…”

Ucok: “Dipanggil-panggil ayahnya. Mana mungkin bangun lagi.”

Mardongan menundukkan kepala.

Beberapa saat tak ada yang berbicara.

Hanya suara cangkir yang dipindahkan pemilik warung.

Mardongan: “Kadang yang dihukum itu bukan cuma orangnya.”

Ucok: “Maksudmu?”

Mardongan: “Keluarganya pun ikut menanggung hukuman seumur hidup.”

Ucok mengangguk pelan.

Ucok: “Yang bikin aku makin bingung lagi, Don.”

Mardongan: “Apa pula?”

Ucok kembali membuka berita lain di handphone.

Ucok: “Ini… berita korupsi.”

Mardongan tersenyum tipis.

Mardongan: “Bah… berita begitu, tiap hari pun ada.”

Ucok: “Ada pula yang bilang dirinya dikriminalisasi.”

Mardongan: “Ya, itu hak setiap orang menyampaikan pembelaan dalam proses hukum.”

Ucok: “Betul. Tapi orang kampung jadi membandingkan.”

Mardongan: “Membandingkan apa?”

Ucok: “Yang satu baru diduga mencuri seekor ayam, habis nyawanya di jalan.”

Mardongan: “Ya…”

Ucok: “Yang satu lagi menjalani proses hukum lengkap.”

Mardongan mengangguk pelan.

Mardongan: “Itulah yang membuat rasa keadilan orang terus diuji.”

Pemilik warung yang sejak tadi menyusun kursi ikut menyahut.

Pemilik Warung: “Bah… janganlah hukum diganti emosi.”

Ucok menoleh.

Ucok: “Tapi kenapa masih banyak kali orang main hakim sendiri, Tulang?”

Pemilik warung tersenyum hambar.

Pemilik Warung: “Karena ada yang merasa kalau diserahkan ke hukum, hasilnya belum tentu cepat. Ada pula yang merasa hukum kadang kelihatan beda wajahnya.”

Warung kembali hening.

Mardongan menggeleng pelan.

Mardongan: “Walaupun begitu, menghajar orang sampai mati tetap bukan jalan keluarnya.”

Ucok: “Betul kali itu.”

Mardongan: “Kalau hari ini orang dihajar karena baru diduga maling ayam…”

Ia berhenti sejenak.

Mardongan: “…besok siapa pula yang bisa menjamin tak ada orang lain mengalami nasib yang sama hanya karena tuduhan yang belum tentu benar?”

Ucok menarik napas panjang.

Ucok: “Berarti jangan pula kita berpikir koruptor harus diamuk massa?”

Mardongan: “Janganlah.”

Ucok: “Kenapa?”

Mardongan: “Karena kalau massa sudah menggantikan hukum, habislah. Hari ini yang salah mungkin orang lain. Besok bisa jadi kita.”

Ucok mengangguk.

Ucok: “Terus apa yang harus kita tuntut?”

Mardongan mengangkat gelas kopinya.

Mardongan: “Sederhana saja.”

Ucok: “Apa itu?”

Mardongan: “Hukum yang betul-betul adil.”

Ucok: “Adil macam mana?”

Mardongan: “Yang miskin jangan gampang diinjak.”

Ucok: “Iya.”

Mardongan: “Yang kaya jangan gampang lolos.”

Ucok: “Betul.”

Mardongan: “Yang kecil jangan cepat dihukum.”

Ucok: “Ya…”

Mardongan: “Yang besar jangan pula kebal.”

Tak ada lagi yang berbicara.

Suara jangkrik dari balik semak menggantikan percakapan.

Pemilik warung mulai mematikan lampu teplok.

Ucok ikut mematikan layar handphone.

Ucok: “Don…”

Mardongan: “Kenapa?”

Ucok: “Kalau begini terus, yang hilang bukan cuma nyawa orang.”

Mardongan: “Apalagi?”

Ucok: “Kepercayaan masyarakat.”

Mardongan menghabiskan sisa kopinya.

Lalu tersenyum tipis.

Mardongan: “Bah, Cok…”

Ucok: “Apa lagi?”

Mardongan: “Kalau hukum sudah benar-benar dipercaya, orang tak akan sibuk jadi hakim di jalan. Orang akan sibuk mengantar yang bersalah ke kantor polisi, bukan ke kuburan.”

Ucok mengangguk pelan.

Warung akhirnya ditutup.

Malam semakin pekat.

Kopi tinggal ampas.

Namun pertanyaan tentang keadilan masih terus mengembara, dari satu warung kopi ke warung kopi yang lain.

Refleksi Kopi

Marah terhadap ketidakadilan adalah hal yang manusiawi. Namun, kemarahan tidak boleh menggantikan hukum. Setiap dugaan tindak pidana harus dibuktikan melalui proses hukum yang adil, dengan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah. Aksi main hakim sendiri tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga meninggalkan luka panjang bagi keluarga yang ditinggalkan. Di sisi lain, penegakan hukum yang konsisten tanpa membedakan latar belakang, status sosial, atau kedudukan menjadi syarat utama agar kepercayaan masyarakat terhadap hukum tetap terjaga. Sebab, keadilan hanya akan benar-benar hidup ketika dirasakan sama oleh semua orang.

Keterangan Redaksi

Rubrik Cakap-Cakap Mardongan merupakan dialog fiksi berlatar warung kopi khas Sumatera Utara. Tokoh, percakapan, dan alur disusun sebagai refleksi terhadap fenomena sosial yang berkembang di ruang publik. Rubrik ini tidak ditujukan untuk menghakimi individu atau membenarkan tindakan melawan hukum, melainkan mengajak pembaca merenungkan pentingnya keadilan, supremasi hukum, serta penolakan terhadap segala bentuk aksi main hakim sendiri.

Iklan Jivantika Berita