Advertisement

Cakap-Cakap Mardongan: Merdeka? Paten Kali, Bah…

Cakap-Cakap Mardongan membahas makna kemerdekaan Indonesia, nasionalisme, kritik pemerintah, dan tanggung jawab menjaga merah putih.

Pagi baru saja membuka mata. Jalanan belum terlalu ramai. Di warung kopi dekat ujung simpang, asap kopi hitam mengepul pelan. Suara sendok beradu dengan gelas, bercampur bunyi knalpot dari kendaraan yang sesekali melintas.

Di televisi kecil yang tergantung di sudut warung, berita tentang perayaan kemerdekaan kembali diputar.

Ucok menyeruput kopi.

Ucok: “Merdeka ini, Boss?”

Mardongan: “Merdeka lah, Cok.”

Ucok tertawa kecil.

Ucok: “Iya memang merdeka. Tapi kalau dipikir-pikir, lucu juga perjuangan kita tiap tahun.”

Mardongan: “Lucu macam mana pula?”

Ucok meletakkan gelasnya.

Ucok: “Sama-sama lomba kita bah sama orang itu.”

Mardongan: “Orang mana pula?”

Ucok: “Ya… orang-orang yang katanya punya kuasa itu lah. Sama-sama tarik tambang. Cuma beda lapangan.”

Mardongan mengernyitkan dahi.

Mardongan: “Apanya, jelaskan dulu, jangan macam teka-teki kau pagi-pagi.”

Ucok: “Kita tarik tambang di gang kampung. Mereka tarik hasil tambang. Kita lomba makan kerupuk. Mereka sibuk bagi anggaran dan proyek. Kita lomba bertahan hidup sampai akhir bulan.”

Mardongan terdiam sebentar.

Dari meja sebelah terdengar suara sendok mengaduk kopi.

Mardongan: “Bah… pedas kali kopi kau pagi ini.”

Ucok: “Belum habis lagi.”

Mardongan: “Apa lagi?”

Ucok: “Kalau kita kalah lomba makan kerupuk, paling cuma malu. Kalau anggaran salah kelola, yang menanggung bukan satu orang. Masyarakat bisa ikut merasakan akibatnya.”

Mardongan mengangguk pelan.

Mardongan: “Nah, kalau yang itu jangan dibuat bahan tertawa semata lah. Anggaran publik itu ada pertanggungjawabannya.”

Ucok: “Makanya aku heran. Kita tiap Agustus sibuk menghias kampung, pasang bendera, ikut lomba. Bagus itu. Wajib menghormati kemerdekaan.”

Mardongan: “Betul.”

Ucok: “Tapi setelah lomba selesai, kenapa masih banyak rakyat yang harus menghitung uang belanja sampai rupiah terakhir?”

Mardongan menarik napas.

Mardongan: “Karena kemerdekaan bukan cuma soal bebas dari penjajahan.”

Ucok menatapnya.

Ucok: “Terus?”

Mardongan: “Kemerdekaan juga soal bagaimana negara memastikan rakyatnya memperoleh hak, kesempatan, keadilan, dan kehidupan yang layak. Tapi itu bukan berarti semua masalah bisa selesai hanya dengan satu peringatan tujuh belas Agustus.”

Seorang pelanggan di meja belakang ikut menyahut.

Pelanggan: “Jadi merdeka itu belum selesai?”

Mardongan: “Merdeka sebagai bangsa sudah. Tapi pekerjaan mengisi kemerdekaan, bah… itu terus berjalan.”

Ucok tersenyum tipis.

Ucok: “Termasuk melawan korupsi?”

Mardongan: “Termasuk.”

Ucok: “Melawan penyalahgunaan kekuasaan?”

Mardongan: “Termasuk.”

Ucok: “Melawan kemiskinan?”

Mardongan: “Termasuk.”

Ucok: “Melawan kebiasaan diam kalau melihat ketidakberesan?”

Mardongan mengangkat alis.

Mardongan: “Nah, itu pun penting.”

Suara kendaraan dari jalan raya terdengar semakin ramai.

Ucok: “Bung Karno pernah mengingatkan, perjuangan setelah kemerdekaan akan menghadapi tantangan dari bangsa sendiri.”

Mardongan: “Pesan sejarah memang patut direnungkan. Tapi jangan pula setiap kritik langsung dianggap sebagai perang melawan bangsa sendiri.”

Ucok: “Kenapa?”

Mardongan: “Karena mengkritik kebijakan bukan berarti membenci negara. Menanyakan penggunaan anggaran bukan berarti tidak nasionalis. Meminta pelayanan publik yang baik bukan berarti melawan pemerintah.”

Ucok mengangguk.

Mardongan: “Justru kalau cinta negara, kita harus berani menjaga supaya negara ini tidak disalahgunakan oleh siapa pun.”

Ucok: “Tapi kalau terlalu banyak bicara, nanti dibilang tak nasionalis.”

Mardongan terkekeh.

Mardongan: “Kalau kritiknya berdasarkan data dan disampaikan dengan tanggung jawab, kenapa harus takut?”

Ucok: “Kalau kritiknya salah?”

Mardongan: “Ya koreksi. Kalau fitnah, ada mekanisme hukumnya. Makanya jangan asal tuduh.”

Ucok kembali menyeruput kopi.

Ucok: “Jadi merah putih tetap kita kibarkan?”

Mardongan: “Harus.”

Ucok: “Walaupun kita kecewa melihat perilaku sebagian orang yang diberi amanah?”

Mardongan: “Justru harus tetap.”

Ucok memandang bendera kecil yang terpasang di depan warung.

Mardongan: “Bendera itu bukan milik pejabat. Bukan milik partai. Bukan milik kelompok tertentu. Merah putih adalah simbol negara dan penghormatan kepada para pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan.”

Ucok terdiam.

Mardongan: “Mengibarkan merah putih berarti menghormati Indonesia. Bukan berarti kita harus membenarkan semua tindakan orang yang kebetulan sedang memegang jabatan.”

Pelanggan di meja sebelah mengangguk pelan.

Pelanggan: “Bah… itu baru pas.”

Mardongan menghabiskan kopinya.

Mardongan: “Cok, jangan pula kita salah paham.”

Ucok: “Apa itu?”

Mardongan: “Nasionalisme bukan berarti tepuk tangan terus.”

Ucok: “Terus apa?”

Mardongan: “Nasionalisme juga bisa berarti mengingatkan ketika ada yang keliru. Menjaga uang rakyat. Menolak korupsi. Menghormati hukum. Dan memastikan kemerdekaan itu terasa sampai ke meja makan rakyat.”

Ucok tertawa kecil.

Ucok: “Berat kali kau pagi-pagi, Don.”

Mardongan: “Kau yang mulai.”

Ucok: “Kalau begitu, satu pertanyaan terakhir.”

Mardongan: “Apa lagi?”

Ucok menunjuk bendera di depan warung.

Ucok: “Kita ini sudah benar-benar merdeka, atau masih sibuk mencari siapa yang harus kita lawan?”

Mardongan tersenyum.

Mardongan: “Tak usah cari penjajah baru.”

Ucok: “Kenapa?”

Mardongan: “Lawan saja sifat rakus, korupsi, ketidakadilan, kebodohan, dan rasa takut untuk berkata benar.”

Ucok mengangguk.

Di luar, matahari mulai meninggi. Warung semakin ramai. Beberapa warga tampak melintas di bawah deretan bendera merah putih.

Kemerdekaan pagi itu tidak terdengar seperti pidato.

Ia hadir dalam hal-hal sederhana: orang yang bekerja, orang yang membayar pajak, orang yang menjaga lingkungan, orang yang antre mendapatkan pelayanan, dan orang yang masih berani bertanya ketika melihat sesuatu yang tidak beres.

Kopi di meja Mardongan tinggal ampas.

Tapi pertanyaannya belum habis.

Refleksi Kopi

Kemerdekaan bukan hanya perayaan tahunan dengan upacara dan perlombaan. Kemerdekaan juga berkaitan dengan bagaimana negara menjalankan amanah konstitusionalnya, termasuk memastikan pemerintahan berjalan berdasarkan hukum, anggaran publik dikelola secara bertanggung jawab, serta hak masyarakat dihormati.

Kritik terhadap pemerintah atau pejabat publik tidak otomatis merupakan sikap anti-nasionalis. Dalam negara demokratis, kritik yang disampaikan berdasarkan fakta dan dilakukan secara bertanggung jawab merupakan bagian dari kontrol sosial. Sebaliknya, tuduhan tanpa bukti, fitnah, dan penyebaran informasi yang tidak terverifikasi tetap harus dihindari.

Merah putih tetap harus dikibarkan.

Bukan karena semua keadaan sudah sempurna, melainkan karena Indonesia dan perjuangan para pendahulu jauh lebih besar daripada perilaku buruk segelintir orang.

Merdeka bukan berarti berhenti mengawasi.

Merdeka berarti berani menjaga agar kemerdekaan tidak kehilangan maknanya.

Keterangan Redaksi

Rubrik Cakap-Cakap Mardongan merupakan dialog fiksi berlatar suasana warung kopi khas Sumatera Utara. Tokoh, percakapan, dan alur dalam rubrik ini disusun sebagai refleksi terhadap fenomena sosial, kehidupan masyarakat, serta dinamika wacana publik.

Rubrik ini tidak dimaksudkan sebagai pernyataan fakta mengenai individu atau kelompok tertentu, kritik dan refleksi disampaikan secara umum.

Iklan Jivantika Berita