Warung kopi di sudut kampung itu masih ramai meski malam mulai turun.
Asap kopi hitam bercampur aroma rokok menggantung di udara. Dari pengeras suara kecil terdengar lagu lama Melayu yang sesekali tenggelam oleh suara sepeda motor melintas.
Ucok meletakkan ponselnya di atas meja.
“Don, kau dengarnya kabar pocong jadi-jadian itu?”
Mardongan mengangkat alis.
“Pocong yang mana lagi?”
“Itulah. Katanya malam-malam ngetuk pintu rumah warga. Pas pemilik rumah panik, pocongnya masuk mencuri. Ada pula yang bilang bawa senjata tajam.”
Mardongan tertawa kecil.
“Zaman sekarang, berita lebih cepat lari daripada pelakunya.”
Ucok ikut tersenyum.
“Tapi ramai kali yang membahasnya. Grup WhatsApp kampung pun penuh.”
“Sudah ada yang mastikan benar atau tidak?”
“Nah itu dia. Kebanyakan cuma lihat video pendek dan cerita dari mulut ke mulut.”
Mardongan menyeruput kopi perlahan.
“Kalau belum jelas sumbernya, jangan cepat percaya.”
“Tapi cemana kalau memang ada pelaku kejahatan yang memanfaatkan kostum pocong untuk menakut-nakuti warga?”
“Itu lain cerita.”
Ucok mengangguk.
“Yang perlu ditakuti sebenarnya bukan pocongnya, tapi manusia yang memakai kostum itu.”
Dari meja sebelah, seorang bapak tua yang sejak tadi mendengar percakapan ikut menyahut.
“Dulu waktu poskamling hidup, orang asing masuk kampung cepat kali ketahuan.”
Ucok langsung menoleh.
“Itu yang sekarang mulai hilang, Pak.”
“Betul,” jawab pria tua itu.
“Dulu ronda bukan sekadar jaga malam. Itu lah cara warga saling mengenal dan menjaga.”
Mardongan tersenyum.
“Kadang yang hilang bukan keamanan, tapi kebersamaan.”
Warung kopi mendadak hening beberapa detik.
Ucok kembali membuka ponselnya.
“Kalau ku lihat, setiap ada isu masyarakat langsung terbagi. Ada yang percaya mentah-mentah, ada yang ketawa.”
“Padahal dua-duanya bisa salah.”
“Maksudmu?”
“Kalau langsung percaya tanpa verifikasi, bisa buat panik. Kalau langsung menganggap remeh, bisa membuat orang lengah.”
Ucok mengangguk pelan.
“Jadi yang betul cemana?”
“Waspada tanpa panik.”
Bapak tua tadi kembali menyahut.
“Kalau ada orang mencurigakan, laporkan ke kepala lingkungan, aparat desa, atau kepolisian. Jangan karena lihat kain putih langsung dikejar ramai-ramai.”
Suasana kembali cair.
Ucok tertawa.
“Kalau begitu aku punya ide.”
“Apa lagi?”
“Kalau nanti ada pocong jadi-jadian, aku pakai kostum Batman saja keliling kampung.”
Warung kopi langsung pecah oleh tawa.
“Batman Medan?” tanya Mardongan.
“Iya. Biar viral sekalian.”
“Itu bukan menjaga kampung namanya. Itu nyari konten.”
Semua kembali tertawa.
Namun beberapa saat kemudian, Mardongan menatap jalanan kampung yang mulai sepi.
“Tapi, ada hikmahnya dari cerita-cerita kekgini.”
“Hikmah apa?”
“Kadang isu ngingatkan kita bahwa keamanan lingkungan bukan tugas aparat saja.”
“Masyarakat juga punya peran.”
“Pas kali.”
“Karena kampung yang aman bukan dibangun dari rasa takut.”
“Tapi oleh warga yang saling peduli.”
Refleksi Kopi
Kabar mengenai aksi kriminal berkedok pocong yang beredar di berbagai daerah perlu disikapi secara bijak. Hingga ada informasi resmi yang dapat diverifikasi, masyarakat tidak semestinya mudah mempercayai ataupun menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya.
Namun demikian, kewaspadaan tetap penting. Kejahatan sering memanfaatkan kepanikan, kelengahan, maupun situasi sosial tertentu untuk mencari celah.
Menghidupkan kembali budaya ronda dan poskamling, memperkuat komunikasi antarwarga, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga keamanan bersama.
Sebab pada akhirnya, ancaman terbesar bukanlah sosok yang dibungkus kain putih, melainkan niat jahat yang bersembunyi di baliknya.
Keterangan Redaksi
Rubrik Cakap-Cakap Mardongan merupakan dialog reflektif berlatar warung kopi khas Sumatera Utara. Tokoh dan percakapan bersifat fiksi sosial yang merepresentasikan dinamika, humor, dan keresahan masyarakat terhadap isu-isu yang berkembang di ruang publik. Dialog ini tidak merujuk pada individu, kelompok, maupun peristiwa tertentu serta tidak dimaksudkan sebagai pernyataan fakta atas informasi yang belum terverifikasi.












