Siantar, GM – Malam kemerdekaan di Jalan Cokro, Gang Seika, Kota Pematangsiantar berdenyut lain. Bukan sekadar riuh lomba tujuhbelasan, melainkan juga suara lantang yang memecah kesunyian gang sempit. Dari panggung kecil, band lokal Siantar, Rumput Liar, menyalakan bara perayaan 17 Agustus.
Ketua panitia, Fahmi, menyebut penampilan Rumput Liar “keren” dan penuh energi. “Mereka berhasil membuat suasana malam ini berbeda. Pesannya kuat,” ujarnya. Minggu, (17/8/25).
Senada, Ketua Gemapronadi Baru, Ricki Hamdani A.Md.Kom., memberi apresiasi mendalam. “Kita bangga memiliki talenta independen seperti Rumput Liar di Siantar. Mereka bukti nyata bahwa semangat berkarya dan kejujuran dalam berekspresi adalah kekuatan sejati,” katanya.
Malam itu, band ber-genre alternatif rock yang digawangi Ucil pada vokal dan Rahmat pada gitar, berpadu dengan denting kajon Toni yang menggantikan drum set. Dalam balutan akustik yang sederhana, mereka tetap berhasil menghadirkan getaran energi yang merangkul penonton, membuat gang sempit itu berdenyut seolah menjadi ruang konser kecil penuh keintiman.
Repertoar yang mereka bawakan melintasi banyak suara: dari lirik-lirik kritik sosial milik band-band nasional, hingga karya ciptaan sendiri seperti “Dunia Mulai Gak Akur,” “Nikmati,” dan “1000%.” Setiap bait bukan sekadar dinyanyikan, melainkan dilontarkan sebagai pernyataan, seolah menegaskan bahwa musik, pada hakikatnya, adalah bahasa kejujuran.
Rumput Liar bukan sekadar nama. Ia adalah metafora, tumbuhan yang keras kepala, tumbuh di pinggir jalan, diinjak, terabaikan, namun tetap hijau dan hidup. Musik mereka pun hadir demikian: liar, jujur, membumi, dan enggan tunduk pada kemunafikan.
Di gang kecil itu, kemerdekaan terasa lebih lengkap. Tak hanya dengan bendera merah putih yang berkibar di sudut gang, tetapi juga dengan lantunan suara yang mengajarkan: kebebasan sejati lahir dari keberanian berkata jujur.
Tim GrivMedia












