Oleh Ricki Hamdani, A.Md.Kom
GrivMedia – Di negeri ini, keresahan punya banyak nama: harga yang melambung, janji yang melayang, dan kata-kata pejabat yang lebih sering terdengar seperti ejekan ketimbang penghiburan.
Awalnya, semua murni. Jalanan dipenuhi masyarakat biasa, buruh yang lelah dijadikan bahan pidato, mahasiswa yang haus keadilan, pedagang kecil yang nasibnya sering digadaikan di meja perundingan. Mereka datang membawa poster, bukan bensin; membawa suara, bukan api.
Namun, seperti ada komando tak kasatmata, gelombang itu tiba-tiba berubah warna. Asap membubung, dan kaca pecah. Aroma kekacauan menjalar, seolah ada tangan yang lihai mengatur tempo orkestra kerusuhan ini.
“Seperti déjà vu,” kata seorang pengamat kampung di kedai kopi pojok jalan, menyesap robusta yang mulai mendingin. Nada bicaranya setengah serius, setengah getir, mengingat 1998, ketika reformasi lahir bersama darah, dan bisik-bisik tentang “aktor intelektual” menjadi cerita yang tak pernah benar-benar menemukan titik.
Kini, panggungnya berbeda, tapi lakonnya terasa sama. Hanya segelintir yang mencoba berpikir jernih: bertanya mengapa keresahan yang lahir dari perut rakyat bisa berubah jadi bara yang menghanguskan. Mayoritas sudah terlanjur terbakar amarah, pada gaji pejabat yang melangit, pada ucapan yang merendahkan, pada janji yang tak pernah ditepati.
Sisanya? Tenggelam dalam teori. Ada yang menyebut ini permainan asing, ada yang menuding sisa rezim lama, ada pula yang melihat bayangan kekuasaan lama yang kini berdansa dengan wajah baru. Teori bertebaran seperti abu di udara, namun kebenaran tetap seperti asap: menyesakkan, tak terlihat, dan tak pernah bisa benar-benar digenggam.
Di lorong-lorong gelap kota, riuh suara massa bercampur dengan langkah senyap yang entah milik siapa. Kamera ponsel merekam segalanya, tapi tak satu pun bisa menjawab siapa sutradara yang mengarahkan drama ini.
Di kedai kopi yang sama, diskusi tak pernah benar-benar usai. “Kita ini bangsa yang cepat lupa,” kata seorang lelaki tua, mengaduk kopinya tanpa gula. “Dulu kita teriak reformasi, sekarang kita bahkan lupa apa yang kita perjuangkan. Yang berkuasa berganti wajah, tapi lakonnya tetap itu-itu saja: janji manis di podium, pahit di lapangan.”
Mungkin benar, bangsa ini seperti penonton setia drama panjang yang tak tahu siapa penulis naskahnya. Dan di antara asap, amarah, dan bisik-bisik konspirasi, satu hal tetap sama: rakyat selalu menjadi pemeran utama, sekaligus korban yang tak pernah masuk kredit di akhir cerita, bahkan ketika panggung akhirnya runtuh.
Catatan Penulis:
Artikel ini lahir dari keresahan yang sama dengan jutaan rakyat: janji yang menguap, harga yang melambung, dan amarah yang tak terkendali. Namun di balik setiap asap, amarah, dan bisik-bisik konspirasi, selalu ada ribuan hati yang terluka dan jutaan harapan yang terbang bersama angin. Semoga kita, baik yang berteriak di jalanan maupun yang duduk di balik meja kekuasaan, mampu menghentikan drama ini, dan berani menulis babak baru yang lebih jernih, adil, dan manusiawi.












