Samarinda, GrivMedia – Malam itu, Masjid At-Tawwabin di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Samarinda dipenuhi lantunan shalawat. Tepat di malam 12 Rabiul Awal 1447 H, warga binaan bersama jajaran petugas larut dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Tradisi yang telah berumur lebih dari 14 abad itu kembali hidup: pembacaan Maulid Simtuddurror karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy, syair pujian yang meneguhkan cinta umat kepada Rasulullah.
Kepala Rutan Samarinda, Heru Yuswanto, hadir bersama pejabat struktural serta warga binaan. Usai acara, ia menegaskan makna sederhana namun dalam dari peringatan ini. “Salah satu bukti cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW adalah dengan memperingati hari lahirnya, bershalawat, dan membaca syair-syair pujian ulama. Semoga dengan ini kita memperoleh keberkahan dan kelak mendapatkan syafaat beliau,” ujarnya, Kamis (4/9/2025).
Heru berharap kegiatan ini tak berhenti pada seremoni semata, melainkan menjadi momentum spiritual bagi warga binaan. “Semoga menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah dan mendorong perubahan sikap agar menjadi pribadi yang lebih baik,” katanya.
Di luar tembok Rutan, Samarinda mungkin berjalan seperti biasa. Namun di dalamnya, malam itu tercatat sebagai “bukti cinta”: doa, shalawat, dan harapan yang dipanjatkan bersama di bawah nama Nabi Muhammad SAW.
Tim GrivMedia












