GrivMedia– Suasana Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Selasa (23/9/2025), mendadak berubah hening ketika Presiden Prabowo Subianto berdiri di podium. Suaranya lantang, nadanya membara, seakan menyapu ruang sidang dengan potongan sejarah yang pahit: bangsa Indonesia, katanya, pernah diperlakukan “lebih hina dari anjing” di tanah airnya sendiri.
Kata-kata itu bukan sekadar retorika, melainkan gugatan atas masa lalu yang panjang. Prabowo mengingatkan dunia bahwa penjajahan bukan dongeng yang lapuk. Itu luka yang diwariskan, sebuah kenangan getir yang menandai berabad-abad dominasi, opresi, dan perbudakan. “Kami tahu rasanya ditolak keadilan, hidup dalam apartheid, hidup dalam kemiskinan, dan dipaksa tunduk pada ketidaksetaraan,” ujarnya.
Namun pidato itu tidak berhenti pada ratapan masa lalu. Dari podium megah itu, Prabowo mengangkat sebuah seruan moral: dunia harus menolak doktrin usang “yang kuat berbuat semaunya, sementara yang lemah menanggung akibatnya”. Doktrin itu, yang pernah diingatkan sejarawan Yunani kuno Thucydides, ia sebut sebagai warisan gelap yang terus merusak peradaban hingga kini.
“Setiap hari kita menyaksikan penyiksaan, genosida, dan penghinaan terang-terangan terhadap hukum internasional dan kemanusiaan,” tegas Prabowo, sembari menyinggung tragedi panjang yang menimpa rakyat Palestina. Menurutnya, tragedi itu adalah bukti nyata bahwa kekuatan yang semena-mena masih hidup, menolak mati meski dunia telah memasuki abad kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan.
Di balik pidato berapi-api itu, ada tawaran konkret: Indonesia siap mengirim hingga 20.000 pasukan penjaga perdamaian ke berbagai belahan dunia. Dari Gaza hingga Sudan, Prabowo berjanji Indonesia tidak akan hanya menjadi penonton. Ia juga menegaskan komitmen negeri ini sebagai lumbung pangan dunia, pengawal ketahanan energi bersih, dan benteng solidaritas global.
Pidato itu berakhir dengan nada yang menggema: dunia bukanlah kandang anjing di mana yang kuat menggigit sekehendaknya. Dunia, kata Prabowo, harus menjadi rumah bersama, tempat setiap bangsa, besar maupun kecil, bisa berdiri dengan martabat yang sama.
Laporan: Tim GrivMedia













