Advertisement

Respon Cepat Polres OKI: Dendam yang Berujung Peluru di Sungai Jeruju

Ogan Komering Ilir, GrivMedia – Pagi di Desa Sungai Jeruju, Kecamatan Cengal, seharusnya disambut dengan deru cangkul dan aroma tanah basah. Namun, Senin (6/10/2025), dentum senjata api memecah tenang, menamatkan hidup seorang petani di jalan poros desa yang biasa dilewati anak sekolah dan pedagang keliling.

Korban, K (40), petani asal Dusun Baru, tumbang di tempat setelah peluru rakitan menembus dadanya. Peluru itu dilepaskan oleh RN (25), warga satu desa, yang kemudian diketahui menyimpan bara dendam lama.

Kapolres OKI, AKBP Eko Rubiyanto, S.H., S.I.K., M.H., menjelaskan, pelaku ditangkap tanpa perlawanan hanya beberapa jam setelah peristiwa berdarah itu. “Sekitar pukul 14.00 WIB, tim Satreskrim Polres OKI bersama Unit Reskrim Polsek Cengal berhasil mengamankan pelaku di wilayah yang sama,” ujarnya.

Penyelidikan cepat menguak motif sederhana namun mematikan: rasa malu yang berubah menjadi amarah. Beberapa hari sebelum penembakan, korban disebut mengejek RN di depan warga saat pelaku hendak berutang. Ejekan itu menjadi bara yang menyala dalam diam, hingga akhirnya meledak menjadi tindakan fatal.

Dari tangan pelaku, polisi menyita satu pucuk senjata api rakitan jenis revolver. RN kini harus menghadapi jerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, serta UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 mengenai kepemilikan senjata api ilegal. Ancaman hukumannya, dari penjara seumur hidup hingga hukuman mati membayangi masa depannya.

Kapolres OKI mengapresiasi respon cepat anggotanya, sekaligus mengingatkan masyarakat agar tidak membiarkan emosi menutup nalar. “Setiap masalah harus diselesaikan secara damai. Senjata api tanpa izin adalah ancaman bagi keselamatan bersama,” tegasnya.

Bupati OKI, H. Muchendi Mahzareki, turut menyampaikan keprihatinan. “Peristiwa ini harus menjadi pelajaran bahwa kekerasan tak pernah menjadi solusi. Pemerintah daerah bersama aparat siap menjaga kondusifitas dan keamanan warga,” ujarnya.

Kini, di Sungai Jeruju, suara tembakan itu telah lama padam. Namun gema duka masih menggantung di udara, mengingatkan bahwa satu ejekan, bila tak ditahan dengan sabar, bisa berubah menjadi peluru yang mengakhiri hidup sesama manusia.

Laporan: Tim GrivMedia