Simalungun, GrivMedia — Awan panas mulai bergulung di langit Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun. Pada Senin, 27 Oktober 2025, ribuan massa dari berbagai elemen buruh, mahasiswa, hingga masyarakat, direncanakan turun ke jalan. Mereka bersatu dalam satu suara: menuntut keadilan bagi pekerja yang dianggap diperlakukan tidak adil oleh manajemen PT Alliance Consumer Products Indonesia.
Ketua Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi, dan Pertambangan (FSP KEP SPSI) Siantar–Simalungun, Abdul Arif Namora Sitanggang, menegaskan aksi tersebut bukan sekadar demonstrasi, melainkan seruan nurani dari kaum pekerja.
“Kami sudah menyampaikan surat pemberitahuan resmi ke Polres Simalungun. Semua prosedur kami tempuh. Ini aksi damai, tapi dengan kekuatan penuh,” ujar Arif, Rabu (22/10).
Aksi akan dimulai pukul 09.00 WIB. Massa berkumpul di Gang Makmur, Kecamatan Bandar, lalu melakukan long march menuju kawasan pabrik PT Alliance. Mobil komando, spanduk, dan bendera serikat menjadi simbol gelombang perlawanan terhadap dugaan pelanggaran hubungan industrial yang mencuat di tubuh perusahaan multinasional itu.
Salah satu tuntutan utama ialah pengembalian dua pengurus serikat, Muhammad Alfadil dan Tegar Wibowo, yang disebut diberhentikan secara sepihak. Keputusan itu dinilai bertentangan dengan anjuran Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Simalungun Nomor 500.15.15.2/345/2025.
“Mereka bukan kriminal, tapi pejuang hak buruh. Kami hanya ingin keadilan,” tegas Arif dengan nada penuh tekanan moral.
Selain itu, massa juga mendesak aparat penegak hukum untuk memeriksa HR Manager PT Alliance, Ali Dyna Lase, atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh. FSP KEP SPSI menuding manajemen telah menghambat kebebasan berserikat, tindakan yang jelas dilarang oleh Pasal 28 dan 43 UU tersebut.
Koordinator aksi, Zulfikar, menambahkan bahwa aksi ini bukan bentuk permusuhan, melainkan panggilan keadilan.
“Buruh hanya ingin dihormati. Hubungan industrial seharusnya dibangun dengan keadilan, bukan tekanan,” ujarnya.
Dari sisi mahasiswa, Fauzan, selaku koordinator, menyebut keterlibatan mereka sebagai bentuk solidaritas moral terhadap perjuangan kaum pekerja.
“Kami hadir bukan untuk ricuh, tapi untuk menegakkan suara keadilan. Jika hukum tak berpihak, maka rakyat akan bicara,” katanya tegas.
Menjelang hari pelaksanaan, tensi sosial di sekitar Sei Mangkei mulai menghangat. Aparat kepolisian diharapkan dapat mengawal jalannya aksi agar tetap kondusif. Namun, satu hal tampak pasti: Senin mendatang, langit industri Sei Mangkei mungkin tak lagi tenang.
Ribuan buruh dan mahasiswa akan bersatu dalam gelombang besar tuntutan, mengguncang pagar-pagar pabrik dengan suara keadilan yang tak mudah dibungkam.
Laporan: Tim GrivMedia












