Samarinda, GrivMedia — Di sudut lahan Rutan Kelas I Samarinda, barisan kecil tanaman cabai tumbuh pelan namun pasti. Daun-daunnya hijau segar, seolah membawa harapan baru bagi penguatan ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan. Di tempat yang sebagian orang anggap penuh batas, justru tumbuh ruang produktif yang memberi makna baru pada pembinaan.
Pada tahap awal, sekitar 40–50 pohon cabai ditanam dan dikelola oleh petugas bersama Warga Binaan. Skala budidayanya memang belum besar, tetapi langkah pertama inilah yang menjadi pijakan penting menuju kemandirian pangan rutan. Cabai dipilih bukan tanpa alasan, tanaman ini bernilai ekonomis, relatif mudah dirawat, dan menjadi komoditas harian yang hampir selalu dibutuhkan dapur.
Kegiatan bercocok tanam juga membuka ruang pembinaan yang lebih manusiawi. Melalui proses menanam, merawat, hingga panen, Warga Binaan dilatih kedisiplinan, kerja sama, sekaligus keterampilan pertanian yang dapat berguna setelah kembali ke masyarakat.
Rutan Samarinda berkomitmen memperluas lahan dan meningkatkan pola perawatan agar jumlah tanaman cabai dapat terus bertambah. Harapannya, budidaya ini tidak hanya memenuhi sebagian kebutuhan internal, tetapi menjadi contoh nyata bagaimana pemanfaatan lahan dapat memperkuat ketahanan pangan melalui kerja bersama.
Dari tanah yang sederhana, tumbuh keyakinan bahwa kemandirian bisa dirintis, satu pohon cabai pada satu waktu.
Laporan: Tim GrivMedia












