GrivMedia — Ada sebuah rumah kontrakan di pinggir kota, berdiri diam seperti sedang menyimpan napas. Catnya mengelupas tanpa gairah, dan halaman kecilnya dipenuhi bayangan yang terasa lebih dingin dari udara malam. Rumah itu milik seorang nenek tua, yang tinggal persis di sampingnya, renta, matanya seperti selalu menyimpan sesuatu yang tak pernah ia ceritakan.
Di sisi rumah itu berdiri bengkel motor milik sang anak. Tetapi justru bagian lantai atas bengkel itulah yang paling jarang disentuh manusia: ruangan kosong yang tak pernah dinyalakan lampunya, hanya menyisakan gelap menebal seperti debu yang tak bergerak.
Seorang penghuni kontrakan bercerita, malam pertama ia sudah merasa dipeluk kehadiran yang tak terlihat. Hampir pukul dua dini hari, ia melihat nenek tua berkemben lusuh melintas di halaman. Langkahnya pelan, seperti melayang, tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. “Bukan nenek yang hidup… wajahnya terlalu pucat, terlalu tenang,” katanya lirih.
Beberapa hari kemudian, sebelum subuh menyentuh atap-atap rumah, terdengar suara gaduh samar, seperti tawa, seperti gumam. Penghuni lain melihat anak kecil duduk jongkok di depan rumah, memandangi jalan kosong, seolah menunggu seseorang pulang. Namun ketika pintu dibuka… anak itu lenyap begitu saja, hanya menyisakan dingin yang menetes di kulit.
Dari arah seberang, suara-suara lain ikut menambah cerita: tawa perempuan, langkah kaki, suara seperti seseorang sedang memotong bambu di tengah malam. Tidak ada yang berani mengecek.
Yang paling sering diceritakan warga adalah penampakan di lantai atas bengkel. Ruangan gelap itu kadang memancarkan sorot samar, seperti cahaya dari seseorang. Banyak yang bersumpah melihat perempuan berambut panjang berbaju putih duduk santai di tepi lantai, kedua kakinya menggantung. Ia tidak bergerak, hanya memandangi siapa pun yang lewat, seolah tahu nama mereka.
“Aneh,” kata warga. “Lampu selalu mati, tapi sosok itu terlihat lebih terang daripada ruangannya sendiri.”
Cerita lain datang dari penyewa perempuan. Beberapa kali pakaian dalam mereka hilang tanpa jejak. Tidak ada tanda pembobolan, tidak ada orang luar yang masuk. Hilangnya seperti dicabut dari dunia nyata.
Rumah kontrakan itu, kata warga, bukan sekadar bangunan. Ia seperti ruang yang ditempeli sesuatu, entah kenangan, entah penunggu, entah kesepian yang menjelma menjadi sosok.
Setiap malam, suasana kawasan rumah kontrakan itu tampak sunyi. Tapi itu bukan sunyi yang menenangkan. Itu sunyi yang mengawasi. Sunyi yang terasa sedang memanggil seseorang untuk datang… atau kembali.
Dan siapa pun yang lewat di depannya akan merasakan hal yang sama: bahwa rumah itu tidak pernah benar-benar sunyi.












