Advertisement

TAMU YANG TERLALU NYAMAN

Tamu yang terlalu nyaman

Ditulis oleh Uncle Bekmen, Sang Penikmat Kopi — yang percaya bahwa pahitnya hidup kadang lebih kental daripada pahit kopi yang menemaninya setiap hari

BAB III — Pemberontakan Kecil, Luka Besar, dan Rumah yang Hampir Runtuh Tanpa Angin

Ternyata cerita tentang “berak” itu memang berseri. Jika sebelumnya sang ayah tidak tahu karena tak ada yang bercerita, kali ini ia menyaksikannya sendiri. Saat berada di rumah yang sedang dibangun, ia melihat tanah yang seperti dikorek. Khawatir itu adalah jimat atau sesuatu yang berbau mistik, ia mencangkulnya, dan menemukan kotoran manusia.

Ia membakarnya, sambil bergumam agar menjadi penyakit bagi pelakunya.

Setelah itu, ayah berbicara kepada anak perempuannya: lelaki itu tidak perlu lagi ikut bekerja di rumah yang dibangun. Alasannya sederhana, pekerjaan terlalu lambat sementara keluarga harus segera pindah dari kontrakan.

Mendengar hal itu, dua insan muda itu seperti mencium aroma bakal disalahkan. Mereka memutuskan menghilang dari rumah yang sedang dibangun itu.


Malam tiba. Ayah dan ibu pulang ke kontrakan, tetapi anak perempuan tidak ada di rumah. Kekhawatiran datang tiba-tiba: jangan-jangan lelaki itu membawa anak mereka entah ke mana.

Baca Juga: BAB II — Rumah Baru, Infrastruktur yang Kacau, dan Hal-Hal yang Tak Terlihat

Ternyata mereka pergi diam-diam, membawa sepeda motor yang dibeli dari keringat ibunya, seperti dua pemberontak kecil yang merasa dunia tidak pernah berpihak pada perasaan mereka. Mereka melesat ke luar kota, ke rumah sang Abang, tempat pelarian terakhir yang sebenarnya sudah terlalu sering menampung lelah.

Abang itulah yang kemudian mengabarkan kepada orangtua:
“Adik sudah di sini. Bersama lelaki itu.”

Ibu menutup wajah dengan telapak tangan. Ayah, yang sedari tadi menahan diri, meledak bukan karena kepergian anaknya, tetapi karena cara mereka pergi, seolah orangtua tak pantas dihargai lagi.

Mereka, dua hati muda yang mudah tersinggung oleh nasihat, menafsirkan keputusan orangtua sebagai pengusiran, sebagai penzaliman, sebagai drama dunia yang mereka rasa selalu memihak orang dewasa. Mereka merasa korban, padahal merekalah yang tak tahu menempatkan diri.


Keesokan harinya, saat sore meredup, keduanya pulang.

Ayah menunggu di ruang tamu, seperti gunung yang sudah terlalu lama menahan gempa.

Larangan akhirnya disampaikan, dengan suara yang disaring dari sabar dan kekecewaan: lelaki itu diminta tidak lagi ikut campur dalam pembangunan rumah. Ayah menegaskan langsung, dan di tengah amarah ia menambahkan,
“Sekalian buang taikmu itu.”

Sesungguhnya, dalam pandangan orangtua, justru merekalah yang berbuat zalim, karena lelaki itu terlalu sering mengambil keputusan sepihak, sok tahu, dan tak beretika sebagai tamu yang seharusnya tahu diri. Dan sang perempuan membelanya membabi buta.

Ayah akhirnya bertanya,

“Kenapa kalian pergi tanpa bilang?”

Anak perempuan itu menjawab lantang, suaranya seperti batu yang menghantam kaca rumah sendiri:
“Karena aku rasa aku tidak dipedulikan. Tidak diperhatikan. Tidak disayang.”

Ayah menatapnya, kecewa pada pembelaannya terhadap lelaki itu.

“Kau ini kenapa selalu ikut apa katanya? Kau tak tahu seluk-beluk laki-laki ini. Gatal kau memang!”

Dan anak perempuan itu, kehilangan seluruh malu yang ditanamkan dari kecil, menantang balik:

“Iya! Aku gatal! Semua salah yang aku pilih! Mau kalian apa sebenarnya? Hanya karena aku sarjana?”

Kata itu membuat ayah terdiam. Diam yang lebih menakutkan dari amarah.

Rumah itu nyaris runtuh, bukan oleh angin, tetapi oleh anak yang merasa korban, padahal ia sendiri pelakunya.


Ayah lalu menatap lelaki itu. Pertanyaannya seperti ujian identitas:

“Kau ini sebenarnya orang mana?”

Lelaki itu menjawab dengan sorot mata tajam,
“Aku orang itu.” (menyebut satu wilayah)

Ayah tidak puas.
“Lalu kenapa KTP mu wilayah ini?”

Jawabannya jauh lebih aneh:
“Aku… diangkat orang sana.”

Logika ayah ditampar jawaban yang tak masuk akal itu.

Melihat keadaan makin panas, Abang ipar akhirnya maju. Ia membawa napas berat dan suara yang selama ini ia simpan:

“Aku bicara sebagai abang. Kalian harus tahu salah kalian. Tahu etika.”

Namun sang perempuan melawan. Lelaki itu ikut melawan, dalam diam yang keras.

Abang ipar hampir membeberkan semua kesalahan mereka satu per satu, tetapi ia menahan diri. Ia hanya memberi garis besar, cukup untuk membuat keduanya terdiam meski jelas dari mata mereka bahwa hati masih ingin melawan.

Saat wajah keduanya masih penuh bantahan, emosi Abang ipar luap juga. Ia melontarkan beberapa pertanyaan sederhana tentang etika, tanggung jawab, dan logika, yang semuanya tidak bisa mereka jawab.

Sunyi pun jatuh.

Dan Abang ipar menutup dengan kalimat seperti palu sidang:

“Orang hebat bukan karena gelarnya. Yang menentukan manusia layak disebut manusia atau tidak adalah sikapnya kepada orangtua dan keluarga.”

Ayah yang muak akhirnya berkata:
“Kau pulang saja. Jangan dekat-dekat anakku lagi. Biar kami tenang.”

Lelaki itu pergi, bukan dengan hormat, melainkan dengan langkah yang menyimpan dendam kecil.


Sore keesokan harinya, sang perempuan pergi tergesa-gesa sambil membawa ijazahnya, entah untuk membuktikan apa, entah untuk menegaskan apa. Yang jelas, rumah itu semakin terasa seperti kapal yang perlahan miring. Bukan oleh badai,

tetapi oleh penumpang yang tak tahu kapan harus turun.


Bersambung…