Advertisement

Perang AS-Iran Memanas, Kemlu RI Rilis Kontak Darurat WNI di Timur Tengah

Perang AS-Iran Memanas, Kemlu RI Rilis Kontak Darurat WNI di Timur Tengah

Jakarta, GrivMedia – Ketegangan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kian meningkat. Di tengah eskalasi yang belum mereda, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) merilis daftar kontak darurat bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di kawasan Timur Tengah.

Langkah ini disampaikan sebagai upaya perlindungan maksimal terhadap WNI yang terdampak situasi perang di kawasan Teluk dan sekitarnya. Melalui keterangan resmi, Kemlu mengimbau seluruh WNI untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, menjaga komunikasi dengan perwakilan RI, serta memastikan dokumen penting mudah diakses sewaktu-waktu.

Data Kemlu per Juni 2025 mencatat lebih dari 110 ribu WNI berada di kawasan Timur Tengah. Arab Saudi menjadi negara dengan jumlah WNI terbanyak, disusul Uni Emirat Arab. Sementara di Iran, tercatat ratusan WNI masih menetap.

Direktorat Perlindungan WNI Kemlu RI memastikan layanan hotline tetap aktif 24 jam. Selain itu, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di berbagai negara kawasan turut membuka jalur komunikasi darurat.

Berikut daftar kontak darurat yang dapat dihubungi WNI:

  1. Direktorat Perlindungan WNI Kemlu RI: +62 81290070027
  2. KBRI Riyadh: +966 569173990
  3. KJRI Jeddah: +966 503609667
  4. KJRI Dubai: +971 564170333 / +971 563322611
  5. KBRI Abu Dhabi: +971 566156259
  6. KBRI Baghdad: +964 7769842020
  7. KBRI Beirut: +961 70817310
  8. KBRI Damaskus: +963 954444810
  9. KBRI Manama: +973 38791650
  10. KBRI Doha: +974 33322875
  11. KBRI Kuwait City: +971 564170333 / +971 563322611
  12. KBRI Amman: +962 779150407
  13. KBRI Teheran: +98 9914668845 / +98 9024668889
  14. KBRI Muscat: +968 9600 0210

Kemlu menegaskan, keselamatan WNI menjadi prioritas utama pemerintah. Koordinasi dengan otoritas setempat dan pemantauan situasi keamanan dilakukan secara berkala guna mengantisipasi dampak konflik yang lebih luas.

Di tengah bayang-bayang eskalasi militer, nomor-nomor darurat itu menjadi jembatan harapan, saluran komunikasi yang memastikan negara tetap hadir bagi warganya, di mana pun mereka berada.

Laporan: Tim GrivMedia | Editor: Redaksi