Yogyakarta, GrivMedia — Nama As’ad Humam mungkin tak banyak dikenal luas. Namun, metode belajar membaca Al-Qur’an yang ia kembangkan, yakni Iqro, telah digunakan jutaan umat Islam di Indonesia hingga mancanegara.
Lahir pada 1933 di Yogyakarta, As’ad berasal dari keluarga Muhammadiyah. Perjalanan hidupnya berubah setelah mengalami cedera tulang belakang akibat jatuh dari pohon pada usia muda, yang membuatnya tidak dapat melanjutkan pendidikan formal.
Sejak itu, ia menekuni peran sebagai guru ngaji. Dalam praktiknya, As’ad mengembangkan metode pembelajaran membaca Al-Qur’an secara bertahap, dimulai dari pengenalan huruf hingga rangkaian kata sederhana. Pendekatan ini memungkinkan murid, khususnya anak-anak, memahami bacaan Al-Qur’an dalam waktu lebih singkat dibanding metode konvensional.
Metode tersebut kemudian dikenal sebagai Iqro dan mulai diperkenalkan secara luas pada 1983. Penggunaannya berkembang melalui lembaga pendidikan Al-Qur’an, termasuk Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA/TPA).
Dalam laporan Gatra (1996), metode Iqro pertama kali diuji coba pada anak-anak binaan tim tadarus Angkatan Muda Masjid dan Musholla (AMM) Yogyakarta. Hasilnya menunjukkan peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an dalam waktu relatif singkat.
Seiring waktu, metode ini diadopsi secara luas dan didukung pemerintah sebagai bagian dari upaya mengurangi buta aksara Al-Qur’an. Buku Iqro kemudian dicetak dan didistribusikan secara nasional hingga ke luar negeri, termasuk ke Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Pendapatan dari penjualan buku tersebut tidak digunakan untuk kepentingan pribadi, melainkan dialokasikan untuk pengembangan sarana pendidikan dan kegiatan keagamaan.
As’ad Humam wafat pada Februari 1996. Atas kontribusinya, ia dikenang sebagai tokoh yang berperan dalam memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an di tengah masyarakat.
Laporan: Tim GrivMedia | Editor: Redaksi












