Advertisement

Garansi di Ujung Lidah: Saat Janji Toko Berakhir di Meja Kasir

GrivMedia – Bagi pembeli, garansi adalah janji suci di meja transaksi. Tapi bagi sebagian pelaku usaha, garansi kadang hanya sekadar kata manis yang mudah larut begitu barang sudah berpindah tangan.

Itulah yang dirasakan seorang konsumen ketika memori card merek Robot yang baru dibelinya di sebuah outlet gadget, hanya bertahan satu hari sebelum hilang dari deteksi ponsel. Awalnya, perangkat berfungsi normal untuk memindahkan file, foto, dan video. Namun esoknya, ia seakan “mati suri lenyap dari pengaturan penyimpanan.

Pembeli pun kembali ke outlet, membawa keluhan dan harapan. Apalagi, dua minggu garansi sempat dijanjikan saat transaksi. Namun di meja kasir, nada mulai berubah. Pekerja outlet mengaku belum pernah menghadapi kasus serupa, lalu mengusulkan uji coba dengan ponsel kedua, yang pembeli tak punya.

Pengujian akhirnya dilakukan dengan ponsel milik pekerja. Hasilnya sama: memori card tak terdeteksi. Saat pembeli meminta uji balik memakai memori card baru dari toko, perangkat itu langsung terdeteksi normal di ponselnya.

Meski bukti teknis mengarah ke kerusakan barang, pemilik outlet yang dihubungi via telepon menyebut masalahnya ada pada “virus” atau “ponsel pembeli yang rusak”. Penjelasan ini terdengar seperti upaya memindahkan beban, bukan menepati janji garansi.

Bagi konsumen, garansi bukan sekadar kata penarik minat beli. Ia adalah kontrak moral, bahwa pelaku usaha siap berdiri di sisi pembeli ketika barang tak bekerja seperti mestinya. Mengaburkan janji ini bukan hanya soal rugi materi, tapi juga soal kepercayaan yang retak.

Pasar memang tempat bertemunya penjual dan pembeli. Tapi pasar juga menguji integritas: apakah pelaku usaha menjual barang sekaligus kejujuran, atau hanya menjual barang lalu meninggalkan pembeli sendirian ketika masalah datang.

Tim GrivMedia