Advertisement

Napoleon dari Simalungun: Jejak Perlawanan Tuan Rondahaim Saragih dalam Sejarah Nusantara

Tuan Rondahaim Saragih Napoleon dari Simalungun

Jakarta, GrivMedia — Gelar Pahlawan Nasional yang dianugerahkan Presiden Prabowo Subianto kepada Tuan Rondahaim Saragih membuka kembali satu babak penting sejarah Sumatra Timur. Sosok yang dalam arsip kolonial dijuluki Napoleon der Bataks itu dikenal sebagai panglima perang yang tak pernah menyerah, tak pernah tertangkap, dan tak pernah tunduk pada kekuasaan Belanda.

Keputusan Presiden Nomor 116/TK/2025 yang dibacakan pada 10 November lalu menempatkan Rondahaim Saragih sebagai tokoh sentral dalam perjuangan bersenjata di Simalungun. Ia memimpin Pasukan Raya, barisan pejuang gerilya yang bergerak dari Dolok Merawan hingga Dolok Sagala, menumbuhkan api perlawanan terhadap arogansi kolonial dan kapitalisme perkebunan.

Dalam catatan Media Indonesia, Rondahaim dikenal memegang prinsip tanpa kompromi. Tegas pada lawan, keras pada kesalahan internal, namun setia pada rakyat, bahkan menghibahkan harta pribadinya demi perjuangan.

Ia menjadi benteng terakhir yang tak mampu ditembus Belanda. Sementara tokoh perlawanan lain, Sisingamangaraja XII, Datuk Sunggal, Kiras Bangun, hingga Raja Sang Naualuh, akhirnya gugur atau ditangkap, Rondahaim tetap berdiri sebagai pengecualian sejarah: panglima yang tak pernah ditundukkan.

Perjuangannya bukan sekadar melawan kolonialisme, tetapi membela marwah Simalungun sebagai etnis yang berdaulat. Ia menjaga Buntu Raya sebagai benteng terakhir yang tak berani dimasuki Belanda hingga akhir hayatnya.

Dengan pengakuan negara, kisahnya kini disematkan kembali dalam narasi besar bangsa, sebagai pahlawan yang mengutamakan rakyat di atas dirinya, pejuang yang memantik keberanian hingga tetes darah terakhir.

Laporan: Tim GrivMedia
Disusun berdasarkan artikel Media Indonesia yang berjudul “Napoleon der Bataks, Kisah Perjuangan Tuan Rondahaim Saragih”.