Jakarta, GrivMedia — Ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz tidak hanya mengancam pasokan energi dunia, tetapi juga berpotensi mengganggu sistem komunikasi digital global. Ancaman tersebut muncul dari kerentanan jaringan kabel serat optik bawah laut yang menjadi tulang punggung lalu lintas data internasional.
Dalam tulisan analisis yang dipublikasikan oleh Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI), pengamat dari kelompok ahli BNPP, Hamidin, mengingatkan bahwa gangguan pada kabel bawah laut di kawasan tersebut dapat memicu dampak luas terhadap sistem ekonomi dan keamanan dunia.
Menurutnya, selama ini perhatian global lebih tertuju pada peran Selat Hormuz sebagai jalur distribusi energi, di mana sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintas setiap hari. Namun di balik itu, terdapat jaringan kabel serat optik bawah laut yang membawa lebih dari 95 persen lalu lintas data internasional.
“Jika minyak adalah darah perekonomian dunia, maka data adalah sistem sarafnya. Tanpa aliran data yang stabil, dunia modern bisa mengalami kelumpuhan digital,” tulis Hamidin dalam artikel yang dirilis BNPP RI, Sabtu (15/3).
Beberapa sistem kabel penting yang melintasi kawasan Teluk antara lain jaringan FALCON (Fibre Optic Link Around the Globe), Europe India Gateway (EIG), serta Gulf Bridge International (GBI). Infrastruktur tersebut menghubungkan pusat-pusat ekonomi global, jaringan perbankan internasional, hingga komunikasi strategis antarnegara.
Kerentanan muncul karena kondisi geografis Selat Hormuz yang relatif dangkal, dengan kedalaman sekitar 50 hingga 100 meter. Situasi ini membuat kabel bawah laut lebih rentan terhadap kerusakan, baik akibat aktivitas pelayaran, alat tangkap ikan, maupun potensi sabotase dalam konflik modern.
Dalam skenario terburuk, gangguan besar pada kabel optik bawah laut dapat memperlambat transaksi keuangan internasional, mengganggu sistem logistik global, hingga memengaruhi komunikasi pertahanan antarnegara.
Meski konflik di kawasan Teluk terkesan jauh dari Indonesia, dampaknya dinilai tetap signifikan. Sebagian lalu lintas data internasional Indonesia menuju Eropa masih melewati jalur yang terhubung dengan Timur Tengah. Jika jalur tersebut terganggu, trafik data harus dialihkan melalui rute lain yang lebih panjang.
Selain itu, potensi gangguan di Selat Hormuz juga berimplikasi terhadap stabilitas energi global yang pada akhirnya dapat memengaruhi perekonomian nasional.
BNPP RI menilai kondisi tersebut menjadi pelajaran strategis bagi Indonesia untuk memperkuat perlindungan infrastruktur digital bawah laut, termasuk jaringan kabel komunikasi yang membentang di berbagai selat strategis seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok.
Selain itu, diversifikasi jalur komunikasi internasional dan peningkatan pengawasan wilayah laut dinilai penting untuk mengantisipasi ancaman baru di era konflik digital.
Sumber: Diolah dari artikel analisis yang dipublikasikan Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI).












