Advertisement

Jejak Darah 1943: Dua Arwah yang Menolak Pergi dan Mediator yang Menjadi Pintu

Jejak darah 1943: dua arwah yang menolak pergi dan mediator yang menjadi pintu

GrivMedia — Malam itu, desa tua yang berada di kaki bukit seperti diselimuti kabut yang tak biasa. Pepohonan beringin yang tumbuh seakan mengerutkan dahannya; angin berjalan perlahan, seperti takut mengusik sesuatu yang sedang bangun. Di rumah kayu tempat ritual mediatisasi dilakukan, warga berkumpul dalam hening yang menegang.

Tiba-tiba tubuh sang mediator tersentak, napasnya berat seperti ada beban yang menekan dadanya. Suara laki-laki asing keluar dari mulutnya, berat dan serak seolah berasal dari tenggorokan yang pernah disayat. Ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang pribumi yang dieksekusi pada masa pendudukan Jepang, tahun 1943 dibunuh bukan oleh tentara asing, tetapi oleh saudara sebangsa yang dipaksa tunduk pada perintah penjajah.

Tanah… dan darah… hidup sampai mati…” ucapnya, kata-kata patah-patah yang menciptakan hawa dingin merayap di dinding kayu.

Warga yang hadir mengaku tubuh mediator saat itu kaku seperti mayat yang baru saja diangkat dari tanah liat. Urat lehernya menegang; matanya memutih, seolah melihat kembali malam eksekusinya sendiri.

Kisah kelam itu seakan merembes keluar dari tubuh mediator. Mereka yang ada di ruangan mengaku mencium bau tanah basah bercampur karat besi, aroma yang tidak pernah ada sebelumnya.

Namun sesi itu belum usai.

Setelah sosok laki-laki itu hilang, mediator tiba-tiba menangis dengan suara yang tidak menyerupai tangisan laki-laki maupun perempuan dewasa. Di sudut ruangan, lampu minyak bergoyang tanpa angin. Suara lirih itu berubah menjadi ratapan seorang perempuan: suara yang menggedor telinga, menyayat, seperti meminta pintu dibukakan dari tempat yang sangat jauh.

Salah satu sesepuh desa menceritakan bahwa sosok perempuan itu diyakini sebagai korban kekejaman tentara pendudukan. Namanya tidak pernah tercatat, wajahnya tidak pernah difoto. Namun penderitaannya sudah lama menjadi bisik-bisik yang diwariskan dari nenek ke cucu.

Ketika suara perempuan itu muncul, mediator memeluk tubuhnya sendiri sambil menggigil hebat. “Tolong… tolong pulangkan aku…” katanya, namun dengan nada yang tidak mungkin keluar dari suaranya yang asli. Ruangan seketika terasa lebih dingin, seolah udara malam ditarik keluar dari tubuh para saksi.

“Lampu padam hanya sedetik. Tapi di detik itu, kami mendengar langkah kaki di belakang kami,” ujar seorang saksi yang menolak disebutkan namanya. “Seperti ada yang berjalan pelan… menyeret… dan berhenti tepat di belakang mediator.”

Peneliti budaya yang diminta meninjau kejadian ini mengatakan fenomena tersebut mungkin menjadi “retakan memori sejarah” yang muncul kembali melalui tubuh mediator, sebuah ingatan kelam yang enggan lenyap.

Namun bagi warga desa, kisah itu terasa jauh lebih nyata daripada sekadar simbol.

Sampai malam terakhir, beberapa warga masih melaporkan suara langkah di tanah basah dekat beringin tua, kadang disertai hembusan angin dingin yang muncul tiba-tiba meski langit cerah. Bahkan beberapa warga mengaku melihat bayangan melintas di antara akar beringin, tinggi menyerupai pria dewasa, namun bergerak seperti tak menyentuh tanah.

“Seolah ada yang datang,” kata seorang warga tua, “atau mungkin… ada yang belum sempat pergi sejak 1943.”

Laporan: Tim GrivMedia