GrivMedia – Rentetan bencana hidrometeorologi yang menghantam Sumatera Barat pada pengujung November 2025 kembali menyibak luka lama hubungan manusia dengan alam. Hujan deras, banjir bandang, dan longsor menggulung wilayah-wilayah yang berada di lanskap harimau Sumatera. Dari Malalak, Maninjau, Palupuh hingga Rimbo Panti, daerah yang selama berabad-abad menjadi ruang hidup kucing besar paling ikonik di Nusantara.
Sebagaimana dilansir Mongabay.co.id (2/12) dalam laporan Taufik Wijaya, hampir seluruh titik bencana berada di sekitar Gunung Tandikat, Gunung Singgalang, dan Gunung Talamau. Dalam setahun terakhir, harimau Sumatera berulang kali muncul di kebun, jalan, dan permukiman warga, sebuah pertanda yang dalam kepercayaan lokal kerap dibaca sebagai isyarat alam akan datangnya prahara.
Peringatan yang Datang Terlambat
“Jika harimau menampakkan diri kepada manusia, itu peringatan. Akan ada persoalan besar,” ujar sastrawan dan pekerja budaya, Arbi Tanjung.
Peringatan itu ternyata datang berhari-hari sebelum hujan ditumpahkan langit tanpa jeda. Pohon tumbang, jalan nasional terputus, sungai meluap, dan desa terisolasi. Di Malalak, banjir bandang merenggut puluhan nyawa, malapetaka terbesar dalam bencana kali ini.
Di antara guncangan bencana, pertemuan budaya lingkungan di Pitamahadara, Candi Tanjung Medan, sempat membahas Prasasti Ganggo Hilia, prasasti kuno yang menegaskan pentingnya air sebagai nadi kehidupan bagi manusia dan hewan. Seolah alam ingin mengingatkan kembali.
Habitat Harimau yang Terus Menyempit
Sejumlah harimau yang terjerat, memasuki kandang jebak, hingga memangsa ternak warga memperlihatkan satu hal: ruang hidup mereka semakin menyempit. Hariyo T. Wibisono dari Sintas Indonesia menekankan bahwa bencana ini memperburuk kondisi habitat harimau yang sebelumnya saja sudah terfragmentasi.
“Kerusakan hutan adalah akar persoalan. Bukan hanya manusia yang menanggung derita, tetapi seluruh makhluk hidup,” katanya.
Forum HarimauKita (FHK) bahkan menyebut bencana ini sebagai “kabut duka bagi semua spesies”.
Nilai-Nilai Adat yang Tergerus
Bagi masyarakat Minangkabau, harimau bukan sekadar hewan. Ia disebut inyiak, nenek, penjaga alam. Gunung-gunung yang dilingkup bencana dikenal sebagai “penyangga langit Minangkabau”.
Pekerja teater Fajar Eka Putra mengatakan, “Peradaban Minangkabau tumbuh dari hubungan harmonis antara manusia dan alam. Ketika keseimbangan itu rusak, bencana tidak lagi bisa dielakkan.”
Kerusakan hutan Andalas, pohon sakral yang menjadi identitas Sumatera Barat, menjadi contoh nyata hilangnya pengetahuan ekologis leluhur.
Tanggung Jawab Bersama untuk Memulihkan Alam
Para aktivis lingkungan menegaskan bahwa pemulihan Sumatera Barat membutuhkan kerja lintas sektor: pemerintah, masyarakat adat, pegiat ekologi, hingga komunitas budaya.
“Alam sudah berbicara keras. Sekarang tugas kita mendengarkan,” ujar Ahmad Ridwan Fadjri dari Teater Balai.
Di tengah puing-puing bencana, harapan itu masih ada: mengembalikan hutan, memperkuat kawasan lindung, dan menghidupkan kembali tradisi adat yang mengajarkan manusia merawat tanah tempat ia berpijak.
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun berdasarkan laporan lingkungan berjudul “Bencana dari Lanskap Harimau Sumatera” yang diterbitkan Mongabay.co.id pada 2 Desember 2025, ditulis oleh Taufik Wijaya












