Advertisement

Cakap-Cakap Mardongan: Cerita Narkoba di Meja Kopi

Cakap-cakap mardongan tentang narkoba

Sore itu warung kopi agak riuh, bukan karena orangnya banyak, tapi karena hujan yang jatuh deras di atap seng. Ucok dan Mardongan baru saja mau menyesap kopi ketika seorang lelaki, entah siapa namanya, tiba-tiba duduk di meja mereka.

“Abang-abang… kalian dengar nggak? Narkoba makin rame di kampung kita,” katanya tanpa salam, langsung buka topik seperti sudah kenal lama.

Ucok dan Mardongan saling pandang.
Ucapan orang itu mengalir deras, lebih deras dari hujan.

Rekomendasi Produk
Bardi Smart Indoor CCTV Beli Sekarang →

“Banyak yang jadi korban, bang. Pergi ke tempat sunyi, keluar matanya sudah merah, melotot, giginya goyang. Tapi cemana cara ngilangkannya?”

Mardongan menghela napas panjang. “Miris kali, bang. Tapi kau pun tau sendiri, yang jualan itu bukan orang sembarangan.”

“Di kampung kita,” sambungnya, “bandarnya dekat sama orang-orang hebat. Orang penting. Yang kalau ada acara olahraga, dia paling depan. Bagi-bagi air mineral, kaos panitia, sampai ikut foto bersama.”

Ucok cuma bisa memegang kepala. Sulit rasanya percaya, tapi lebih sulit lagi membantah.

Mardongan menyeruput kopi perlahan. “Biar tau kau Cok… yang susah itu bukan mengingatkan anak-anak. Yang susah itu membereskan yang pegang kendali.”

Lelaki itu menunduk. “Jadi kita harus kekmana, bang?”

Mardongan menatap hujan yang makin deras. “Kadang, bang… yang jahat bukan cuma barangnya, tapi jaringan yang buat kita tak bisa ngomong lantang.”

Di warung itu, suara hujan lebih keras dari apa pun. Tapi entah kenapa, pembicaraan singkat dari orang tak dikenal itu meninggalkan senyap yang panjang, lebih panjang dari renungan setelah kopi terakhir mendingin.


Refleksi Kopi

Narkoba bukan hanya soal barangnya, tapi juga bayang-bayang kekuasaan di belakangnya. Kita sering ingin memberantas, tapi tak tahu harus mulai dari mana. Namun percakapan di meja kopi mengingatkan: perubahan tetap butuh suara, walau pelan, walau kecil. Sebab langkah pertama melawan kegelapan adalah berani menyalakan lampu, meski cahaya itu cuma dari sebuah warung kopi sederhana.


Keterangan Redaksi

Rubrik Cakap-Cakap Mardongan berisi obrolan ringan nan reflektif khas Sumatera Utara. Semua cerita disajikan dengan gaya tutur warga yang jujur, lugas, dan tetap berpijak pada kode etik jurnalistik.