Pagi menjelang siang. Warung kopi di simpang kampung mulai ramai. Suara sendok beradu dengan gelas, sesekali diselingi deru sepeda motor yang melintas.
Ucok dan Mardongan duduk di meja pojok. Tak lama, Rocky datang. Ia menarik kursi lalu duduk sambil memesan kopi. Ucok memperhatikan Rocky sebentar. Kemudian tersenyum miring.
Ucok: “Rock, kudengar sekarang kau merapat sama ketua kampung. Katanya jadi penasehat pula ya?”
Rocky tersenyum.
Rocky: “Begitulah, Cok.”
Ucok meletakkan rokoknya di bibir asbak.
Ucok: “Bah, selama ini bukannya kau yang paling rajin mengkritik ketua kampung?”
Rocky mengangguk.
Rocky: “Memang.”
Ucok: “Dulu keras kali kau bilang tak mau masuk ke lingkungan ketua kampung. Katamu, kalau masuk nanti susah mengkritik.”
Rocky menyeruput kopi.
Rocky: “Sekarang aku punya cara lain.”
Ucok: “Cara apa pula?”
Rocky tersenyum tipis.
Rocky: “Selama ini aku mengkritik dari luar. Sekarang aku mengkritik dari dalam.”
Mardongan yang sejak tadi diam tiba-tiba tertawa kecil.
Mardongan: “Bah, pintar juga kau mencari posisi.”
Rocky menoleh.
Rocky: “Kenapa pula?”
Mardongan: “Kalau di luar, kau bisa melihat rumah orang dari halaman. Kalau sudah masuk ke dalam, kau bisa lihat dapurnya.”
Ucok tertawa.
Ucok: “Jadi kau masuk bukan untuk diam?”
Rocky: “Bukan. Kalau ada yang kurang, tetap kukritik.”
Mardongan mengangkat alis.
Mardongan: “Kalau begitu jangan sampai setelah masuk, kritikmu ikut tinggal di luar.”
Suasana meja mereka mendadak hening. Ucok kemudian kembali membuka percakapan.
Ucok: “Tapi aku masih ingat ucapanmu dulu, Rock. Kau bilang tak mau masuk ke lingkungan ketua kampung.”
Rocky: “Keadaan bisa berubah, Cok.”
Ucok: “Berubah boleh. Tapi jangan pula cerita lama dianggap tak pernah ada.”
Mardongan tersenyum sambil mengaduk kopi.
Mardongan: “Namanya politik kampung, Cok. Hari ini duduk di seberang meja, besok bisa satu meja. Yang penting bukan pindah mejanya.”
Ucok: “Lalu apa?”
Mardongan menatap Rocky.
Mardongan: “Jangan sampai setelah pindah meja, prinsip ikut pindah.”
Rocky terdiam sesaat.
Rocky: “Kalau aku tetap mengkritik dari dalam, salah rupanya?”
Mardongan: “Tidak. bagus lah kalau betul begitu.”
Ia meletakkan sendok.
Mardongan: “Tapi orang kampung punya mata. Mereka akan lihat, kritikmu masih tajam, atau berubah jadi basa-basi.”
Ucok mengangguk pelan.
Ucok: “Berarti yang diuji bukan jabatan penasehatnya.”
Mardongan: “Betul. Yang diuji itu konsistensinya.”
Rocky kembali tersenyum.
Rocky: “Jadi menurut kalian aku bohong?”
Ucok menggeleng.
Ucok: “Bukan ku yang bilang kau bohong. Kau sendiri yang pernah bilang tak mau masuk.”
Mardongan terkekeh.
Mardongan: “Kalau dulu kau bilang tidak, sekarang bilang iya, kekmana pula itu, Rock. Jelaskan saja kenapa kau berubah.”
Ucok mengangkat gelas kopinya.
Ucok: “Karena masyarakat bukan cuma dengar cakap hari ini. Mereka juga ingat cakap kemarin.”
Mardongan mengangguk.
Mardongan: “Dan kalau betul kau mau mengkritik dari dalam, jangan takut kalau suatu hari yang kau kritik itu justru orang yang kasih kau tempat.”
Warung kembali riuh. Rocky terdiam sambil menatap kopinya. Di luar, sebuah sepeda motor melintas cepat. Debunya masuk sedikit dari sisi jalan. Mardongan menutup pembicaraan.
Mardongan: “Masuk ke dalam pemerintahan kampung bukan berarti harus kehilangan suara, Cok. Tapi kalau suaramu berubah setelah dapat kursi, wajar kalau orang bertanya: yang berubah itu tempat duduknya atau pendiriannya?”
Ucok tersenyum.
Ucok: “Bah, berat kali pertanyaanmu.”
Mardongan tertawa.
Mardongan: “Namanya juga kopi. Pahitnya jangan cuma di lidah. Kadang pahitnya sampai ke pikiran.”
Refleksi Kopi
Perubahan sikap dalam kehidupan bermasyarakat merupakan hal yang dapat terjadi. Seseorang yang sebelumnya berada di luar pemerintahan atau kepemimpinan lokal dapat saja memilih terlibat dari dalam, termasuk mengambil peran sebagai penasihat atau bagian dari lingkungan kepemimpinan.
Namun, perubahan posisi juga membawa konsekuensi pada kepercayaan publik. Pernyataan atau sikap seseorang pada masa lalu dapat dibandingkan dengan sikapnya setelah memperoleh peran baru. Kritik dari dalam tetap dapat menjadi bagian dari pengawasan, sepanjang kritik tersebut disampaikan secara objektif, berbasis fakta dan tidak berubah menjadi pembenaran terhadap setiap kebijakan.
Sebab, kedekatan dengan kekuasaan semestinya tidak menghilangkan keberanian untuk menyampaikan kritik. Begitu pula kritik tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup ruang kerja sama. Pada akhirnya, yang akan dinilai masyarakat bukan sekadar di mana seseorang duduk, tetapi apakah prinsip yang dibawanya masih sama ketika tempat duduk itu berubah.
Keterangan Redaksi:
Cakap-Cakap Mardongan merupakan karya dialog fiksi berlatar warung kopi dengan dialek dan nuansa khas Sumatera Utara. Tokoh, percakapan, dan alur disusun sebagai refleksi terhadap fenomena sosial, kehidupan masyarakat, serta dinamika wacana publik.
Dialog ini bukan kutipan langsung dari pihak tertentu dan tidak dimaksudkan sebagai tuduhan faktual terhadap individu tertentu.












