Advertisement

Menjaga Cahaya Fitrah: Ujian Kebajikan Pasca Kemenangan Ramadan

Menjaga Cahaya Fitrah: Ujian Kebajikan Pasca Kemenangan Ramadan

Idul Fitri selalu datang dengan cara yang sama: takbir bergema, tangan saling menjabat, dan kalimat maaf mengalir deras, dari ruang tamu hingga layar ponsel. Semuanya terasa hangat, rapi, dan nyaris tanpa cela.

Namun, di balik itu, ada yang sering luput: kejujuran.

Maaf kini terlalu mudah diucapkan, bahkan lebih cepat dari kesadaran untuk mengakui kesalahan. Ia dikirim massal, diulang serentak, lalu selesai tanpa bekas. Seolah-olah, satu kalimat mampu menutup luka yang bahkan belum pernah benar-benar dibuka.

Rekomendasi Produk
Bardi Smart Indoor CCTV Beli Sekarang →

Kita saling memaafkan, tetapi tidak selalu saling memperbaiki.

Ramadan sejatinya bukan sekadar latihan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah proses membongkar diri: menahan lisan yang terbiasa lepas, menundukkan ego yang diam-diam ingin menang sendiri, serta menumbuhkan empati di tengah keterbatasan. Selama sebulan, manusia dipaksa jujur pada dirinya sendiri.

Tetapi justru setelah itu, ujian yang sebenarnya dimulai.

Tanpa suasana Ramadan, tanpa tekanan kolektif untuk terlihat taat, banyak yang perlahan kembali pada kebiasaan lama. Lisan kembali tajam, emosi kembali liar, dan relasi yang sempat dipulihkan kembali retak, bukan karena lupa, tetapi karena tidak pernah benar-benar berubah.

Di titik ini, Lebaran sering kali berhenti sebagai seremoni. Hangat di permukaan, tetapi dangkal dalam makna.

Padahal, filosofi Lebaran tidak pernah tentang kemeriahan. Ia tentang keberanian untuk konsisten, menjaga nilai yang telah dibangun, bahkan ketika tidak ada lagi yang mengingatkan. Sebab maaf yang tidak diikuti perubahan, hanyalah pengulangan yang dipoles menjadi tradisi.

Lebaran, pada akhirnya, adalah cermin yang jujur, meski tidak selalu nyaman. Ia tidak hanya menanyakan siapa yang kita maafkan, tetapi juga siapa yang berhasil kita perbaiki: orang lain, atau justru diri sendiri.

Ketika gema takbir mereda dan ucapan maaf berhenti berseliweran, pertanyaan itu tinggal sendirian: apakah kita benar-benar kembali pada fitrah, atau sekadar singgah sejenak, sebelum kembali menjadi versi lama yang setiap tahun kita maafkan, tetapi tak pernah kita ubah.

Oleh Ricki Hamdani, A.Md.Kom.