Advertisement

Reog Ponorogo Berakar di Tanah Batak: Harmoni Budaya

Simalungun, GM – Di tengah semangat multikultural Simalungun, Sumatera Utara, kesenian Reog Ponorogo menunjukkan daya hidup luar biasa. Meski berasal dari Jawa Timur, Reog kini tumbuh subur di tanah Batak, mengakar kuat dalam komunitas dan menjadi bagian tak terpisahkan dari wajah budaya lokal.

Ketua Umum Komunitas Reog Jawa Peranakan Sumatera Utara (KJRPS), Muhammad Dimas Pramana, menyebut kesenian ini dibawa para migran Jawa yang datang sebagai buruh kontrak sejak akhir 1990-an. Namun di Simalungun, Reog tak sekadar dipertahankan, tapi justru beradaptasi.

“Gerak tari, musik, dan kostumnya kini berpadu dengan unsur tradisional Batak, seperti gondang Simalungun,” ujar Dimas, Kamis, (22/5/25).

Adaptasi itu, menurutnya, melahirkan gaya khas Reog Simalungun yang lebih menonjolkan jaranan (kuda lumping) ketimbang unsur magis Reog seperti di Ponorogo. Ia juga menekankan perbedaan konteks budaya: tak ada ikatan keraton di Sumatera Utara, memberi kebebasan berekspresi bagi seniman.

Kini ada 46 sanggar aktif di Simalungun yang menaungi pelestarian Reog, melonjak dari 14 sanggar pada 2019. Sementara secara regional, KJRPS membina 179 sanggar di seluruh Sumut, dengan lebih dari 13.000 anggota aktif.

“Generasi muda Simalungun sangat antusias. Ini jadi ruang tumbuh bersama lintas budaya,” ujarnya.

Reog tampil rutin dalam festival budaya dan upacara adat, bahkan pernah pentas di ajang internasional F1 Powerboat Danau Toba 2024. Meski tanpa mencampur tari tradisional Simalungun secara langsung, kehadirannya menambah warna dalam keberagaman budaya lokal.

Namun tantangan tetap ada. Menurut Dimas, regenerasi pemain, ketersediaan kostum, dan stigma negatif soal Reog masih menjadi pekerjaan rumah. Ia menegaskan, “Reog itu budaya, bukan soal akidah.”

Dukungan pemerintah daerah, khususnya fasilitas ruang terbuka hijau dan anggaran sanggar desa, turut diharapkan. Tak hanya melestarikan budaya, Reog juga memberi dampak ekonomi lewat UMKM dan pengrajin perlengkapan seni.

“Dengan dukungan masyarakat dan pemda, kami yakin Reog akan terus hidup sebagai bagian dari identitas budaya Simalungun,” kata Dimas menutup.