Advertisement

“Ini Bukan Perang Kami”: Sekutu AS Serempak Tolak Kirim Kapal ke Selat Hormuz

“Ini Bukan Perang Kami”: Sekutu AS Kompak Tolak Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Jakarta, GrivMedia — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru. Jalur energi paling vital dunia tersendat, namun sekutu Amerika Serikat justru memilih menjaga jarak dari pusaran konflik.

Melansir BBC News pada 17 Maret 2026, Presiden Donald Trump meminta negara-negara sekutu mengirim kapal perang ke Selat Hormuz guna mengamankan distribusi minyak global, di tengah meningkatnya ketegangan pasca serangan terhadap Iran.

Namun respons yang datang tak sejalan dengan harapan Washington. Sejumlah negara Eropa hingga Asia justru menolak keterlibatan militer.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan London tidak akan terlibat dalam konflik yang lebih luas. Sikap serupa disuarakan Jerman. Menteri Pertahanan Boris Pistorius menyebut permintaan tersebut tidak realistis. “Ini bukan perang kami,” ujarnya.

Kanselir Jerman Friedrich Merz juga menegaskan tidak ada mandat internasional sebagai dasar keterlibatan militer. Spanyol turut menolak, dengan alasan operasi militer berpotensi memperburuk eskalasi.

Di kawasan Asia-Pasifik, Jepang menyatakan belum mempertimbangkan operasi keamanan maritim, sementara Australia pada hari yang sama menegaskan tidak akan mengirim kapal perang ke kawasan tersebut.

Sementara itu, Iran tetap pada posisinya. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka, kecuali bagi pihak yang dianggap sebagai musuh.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan di jalur ini telah memicu lonjakan harga serta meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas energi global.

Di tengah dinamika tersebut, aliansi NATO turut menjadi sorotan. Sejumlah pihak menegaskan bahwa NATO adalah aliansi pertahanan, bukan instrumen untuk mendukung operasi militer sepihak.

Situasi ini mencerminkan meningkatnya ketegangan geopolitik sekaligus menguji soliditas aliansi NATO di tengah krisis energi global.

Dari laporan BBC News | Editor: Redaksi