Advertisement

Seleksi Tenis Meja Popnas Riau: Bayang Kecurangan, Luka Mental Atlet Muda

Pekanbaru, GrivMedia – Di atas meja hijau, bola pingpong seharusnya hanya bicara tentang ketangkasan dan strategi. Namun di Riau, dentumannya berubah menjadi gema kekecewaan. Seleksi atlet tenis meja menuju Popnas XVII kini diterpa badai tudingan: dari dugaan kecurangan, intimidasi, hingga pemalsuan dokumen.

Sorotan publik tertuju pada kisah Naura Adhisya Ilham, siswi SMP Negeri 4 Pekanbaru. Dalam seleksi, ia menempati peringkat ketiga, namun justru tidak dipilih untuk memperkuat tim Popnas. Sebaliknya, atlet peringkat keempat yang diberangkatkan. “Mengapa yang kalah diberangkatkan, sementara yang menang disisihkan?” tanya orangtuanya, getir sekaligus tak habis pikir. Minggu (28/9/25).

Kecurigaan semakin menguat setelah beredar kabar mengenai surat rekomendasi yang menjadi dasar penetapan atlet. Sejumlah pemerhati dan komunitas Tenis Meja Riau menemukan kejanggalan: format manual, tanpa stempel resmi, dan tanda tangan yang disebut berbeda arah. “Kalau dicermati, ada keanehan. Ini perlu verifikasi agar jelas,” ujar seorang anggota komunitas tenis meja Riau yang enggan disebut namanya.

Di tengah keraguan itu, berembus pula dugaan bahwa keputusan dipengaruhi oleh kepentingan sempit, bahkan demi “segelintir cuan”. Beberapa pihak menyatakan siap menempuh jalur hukum jika indikasi pemalsuan dokumen terbukti.

Kasus ini bukan hanya menyangkut dokumen administratif. Bagi Naura, keputusan seleksi telah menjadi pukulan mental. Malam-malam latihan yang ia jalani, tenaga yang dikuras di usia belia, seolah sirna ditelan praktik yang disebut tak adil. “Kalau dicurangi seperti ini, mental anak bisa terpukul. Padahal semangatnya begitu besar,” kata salah seorang orang tua atlet dengan nada kecewa.

Komunitas tenis meja Riau yang berisi mantan atlet nasional hingga dunia turut angkat suara. Mereka menilai polemik ini harus segera diselesaikan secara bijak dan transparan. “Sportivitas jangan dikorbankan. Kalau benar ada kecurangan, itu racun bagi dunia olahraga,” ujar seorang mantan atlet.

Kini, desakan agar PTMSI Riau dan Dispora Provinsi Riau turun tangan semakin kuat. Pemerhati meminta adanya klarifikasi terbuka, audit seleksi, serta pembentukan tim independen. Jika dugaan penyalahgunaan wewenang terbukti, sanksi tegas diharapkan dijatuhkan. “Olahraga bukan panggung nepotisme. Ini soal mental generasi bangsa,” tegas seorang pemerhati olahraga di Pekanbaru.

Di balik dentuman bola pingpong, seleksi atlet kini menjadi panggung ujian moral. Pertanyaan besar bergema: benarkah keadilan dikalahkan oleh kedekatan dan kuasa? Ataukah semua ini hanya kabut kecurigaan yang akan sirna setelah terang investigasi?

Hingga kebenaran terungkap, publik masih menunggu jawaban. Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar tiket Popnas, melainkan martabat olahraga dan masa depan generasi muda.

Laporan: Tim GrivMedia


Catatan Redaksi

Berita ini disusun berdasarkan keterangan dari orang tua atlet, komunitas tenis meja Riau, dan aktivis olahraga. Informasi masih dalam tahap verifikasi. Redaksi berupaya mengonfirmasi pihak-pihak terkait, termasuk PTMSI Riau, pelatih, dan Dispora Riau, guna menjaga asas keberimbangan. Redaksi juga membuka ruang hak jawab sesuai kode etik jurnalistik.