Advertisement

Tangga Raja: Dari Lorong Angker ke Jalur Terang

Ilustrasi

GrivMedia – Di sebuah gang sempit yang oleh warga disebut Tangga Raja, lorong ini dulu bukan sekadar jalur penghubung, melainkan ruang sunyi yang menyimpan kisah-kisah malam Jumat.

Menurut penuturan seorang warga yang enggan disebut namanya, siapa pun yang melintas pada malam keramat itu kerap “disapa” gangguan tak kasatmata. Ada yang dilempar pasir, batu kecil, bahkan buah belimbing yang entah dari mana datangnya. “Seperti ada tangan jahil dari dunia lain,” ujarnya lirih.

Suasana makin mencekam karena penerangan minim. Bayangan tembok tua memanjang, langkah kaki menggema, dan bisik-bisik angin menjadi latar bagi cerita mistis yang beredar turun-temurun.

Kini, Tangga Raja telah berubah. Lampu-lampu jalan berdiri tegak, mengusir gelap yang dulu menjadi sekutu misteri. Warga melintas tanpa lagi menoleh ke belakang, seakan kisah-kisah lama hanya tersisa sebagai cerita pengantar tidur.

Namun, bagi sebagian orang, setiap kali melewati anak tangga itu di malam Jumat, masih ada rasa dingin yang merayap pelan di tengkuk, seolah masa lalu belum benar-benar pergi.

Tim GrivMedia