Samarinda, GrivMedia – Di balik tembok Rumah Tahanan Negara (Rutan) Samarinda, denyut produktivitas terus bergerak. Program pembinaan kemandirian melalui UMKM, khususnya sektor permebelan, menunjukkan perkembangan signifikan seiring proses belajar berkelanjutan yang dijalani warga binaan.
Kegiatan permebelan yang semula berangkat dari tahap produksi sederhana kini berjalan konsisten. Warga binaan dilibatkan langsung dalam setiap proses, mulai dari perancangan desain, pemilihan bahan, hingga tahap akhir pengerjaan. Pola pembelajaran berbasis praktik ini membuat keterampilan mereka semakin terasah sekaligus melahirkan produk bernilai jual yang mulai diminati masyarakat.
Inovasi menjadi kunci utama keberlanjutan program. Produk permebelan Rutan Samarinda terus disesuaikan dengan tren pasar tanpa mengesampingkan kualitas pengerjaan. Hasilnya, furnitur yang diproduksi tak sekadar fungsional, tetapi juga memiliki karakter dan daya saing.
Kepala Sub Seksi Bimbingan Kegiatan (Kasubsi Bimgiat) Rutan Samarinda, Muhammad Abduh, menegaskan bahwa setiap karya memiliki makna lebih dari sekadar barang jadi. “Setiap produk yang dihasilkan di sini adalah cerminan kreativitas dan semangat warga binaan untuk terus berkembang. Kami mendorong kualitas dan inovasi agar nilai jual meningkat, dengan tetap mengutamakan keselamatan kerja dan kesejahteraan peserta pelatihan,” ujarnya.
Melalui pendampingan dan pelatihan berkelanjutan, UMKM Rutan Samarinda tak hanya memberi manfaat ekonomi, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan membuka peluang kemandirian bagi warga binaan. Program ini diproyeksikan menjadi bekal penting agar mereka mampu menjalani kehidupan produktif setelah kembali ke tengah masyarakat.
Produk permebelan tersebut menjadi bukti bahwa ruang pembinaan dapat tumbuh menjadi ruang harapan—tempat kreativitas, kerja keras, dan disiplin keselamatan kerja berkelindan, melahirkan perubahan positif yang nyata.
Laporan: Tim GrivMedia | Editor: Redaksi












