Jakarta, GrivMedia — Dua jam. Selisih waktu yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu batas paling sulit ditembus dalam maraton akhirnya runtuh di Wina, Austria, pada Oktober 2019.
Eliud Kipchoge menjadi pelari pertama yang menyelesaikan maraton dalam waktu di bawah dua jam. Dengan prototipe sepatu Nike yang kemudian berkembang menjadi Alphafly NEXT%, pelari Kenya itu mencatat waktu 1 jam 59 menit 40 detik dalam proyek khusus INEOS 1:59 Challenge.
Pencapaian tersebut bersejarah, tetapi bukan rekor dunia resmi. Proyek itu dirancang dalam kondisi khusus dan tidak memenuhi seluruh ketentuan perlombaan yang berlaku untuk pengakuan rekor dunia.
Di balik langkah Kipchoge, teknologi sepatu menjadi bagian penting dari perjalanan panjang tersebut. Nike mengembangkan Alphafly dengan kombinasi dua unit Zoom Air di bagian depan kaki, busa ZoomX, bantalan tumit, pelat serat karbon, serta material AtomKnit pada bagian atas.
Rancangannya diarahkan untuk menghasilkan sepatu yang ringan dan responsif sekaligus membantu efisiensi langkah pelari. Kekakuan pelat karbon juga disesuaikan berdasarkan ukuran sepatu.
Bagi Kipchoge, sepatu itu bukan sekadar perangkat balap. Pengembangannya merupakan bagian dari perjalanan panjang bersama Nike dalam mengejar batas performa manusia.
Dari lintasan khusus di Wina, teknologi tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari lini sepatu balap Nike. Perjalanan Alphafly menunjukkan bahwa dalam maraton modern, setiap detik tidak hanya dikejar oleh kaki, tetapi juga oleh riset, desain, material, dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru.
Laporan: Tim GrivMedia
Editor: Redaksi
Catatan: Artikel ini memuat tautan afiliasi. Jika pembaca melakukan pembelian melalui tautan tersebut, GrivMedia berpotensi menerima komisi dari pihak penyedia atau platform terkait. Tautan afiliasi tidak memengaruhi independensi editorial maupun penilaian redaksi terhadap produk.
Lihat produk dan informasi harga:
👉 Nike Alphafly Next% 2 Eliud Kipchoge













Leave a Reply