Advertisement

Telepon Berdering, Chat yang Dipilih: Mengapa Sebagian Orang Lebih Nyaman Berkirim Pesan?

Ilustrasi seseorang lebih memilih berkirim pesan daripada menerima telepon sebagai bagian dari kebiasaan komunikasi digital.

Jakarta, GrivMedia — Telepon berdering, tetapi jari justru bergerak membuka aplikasi pesan. Alih-alih menjawab panggilan, seseorang memilih mengetik, “Ada apa?” Kebiasaan itu kini semakin umum seiring komunikasi digital menawarkan cara berinteraksi yang lebih fleksibel dan memberi ruang untuk mengatur respons.

Dikutip dari Psychology Today, memilih pesan teks daripada telepon tidak otomatis berarti seseorang introvert, pemalu, atau antisosial. Preferensi tersebut dapat berkaitan dengan kenyamanan, kebiasaan komunikasi, kebutuhan mengendalikan percakapan, serta rasa tidak nyaman terhadap panggilan yang datang tanpa persiapan.

Salah satu alasan utamanya adalah waktu untuk berpikir. Melalui pesan, seseorang dapat membaca terlebih dahulu, menyusun jawaban, memilih kata, kemudian mengeditnya sebelum dikirim. Sebaliknya, telepon berlangsung secara real-time dan menuntut respons spontan.

Mengutip Psychology Today, unsur controllability atau kemampuan mengendalikan isi dan waktu respons menjadi salah satu faktor yang dapat menjelaskan mengapa sebagian orang lebih menyukai texting. Bagi mereka, kendali tersebut membuat komunikasi terasa lebih nyaman.

Pesan juga bersifat asinkron. Pengirim dan penerima tidak harus berada dalam kondisi siap berkomunikasi pada saat yang sama. Pesan dapat dibaca dan dibalas setelah seseorang menyelesaikan pekerjaan, rapat, perjalanan, atau aktivitas lainnya.

Melansir Verywell Mind, texting dapat digunakan untuk membuat rencana, berbagi informasi, memberi kabar, menyapa, hingga melakukan quick check-in. Untuk urusan praktis, pesan sering kali dianggap lebih efisien karena tidak mengharuskan penerima menghentikan aktivitasnya secara langsung.

Bagi sebagian orang, tulisan juga menjadi ruang untuk menyampaikan pikiran dengan lebih teratur. Kalimat dapat diperbaiki sebelum dikirim. Bahkan, pesan singkat berupa foto, kabar, meme, atau pertanyaan sederhana dapat menjaga komunikasi tetap berjalan tanpa harus menyediakan waktu khusus untuk percakapan panjang.

Namun, pesan memiliki batas. Tanpa intonasi suara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh, teks lebih mudah menimbulkan salah tafsir. Konflik, permintaan maaf, berita sensitif, atau pembicaraan emosional yang kompleks terkadang lebih tepat disampaikan melalui telepon atau tatap muka.

Dikutip dari Psychology Today, penelitian yang dibahas laman tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian orang memilih komunikasi tertulis karena memperkirakan menelepon akan terasa lebih tidak nyaman. Namun, setelah percakapan suara benar-benar dilakukan, mereka dapat merasakan kedekatan yang lebih besar dengan lawan bicara tanpa ketidaknyamanan sebesar yang sebelumnya dibayangkan.

Lantas, apakah orang yang lebih suka chat pasti introvert? Tidak. Preferensi terhadap satu media komunikasi tidak cukup untuk menentukan kepribadian seseorang. Begitu pula dengan kecemasan terhadap telepon. Penelitian memang menemukan hubungan antara kecemasan terhadap panggilan dan preferensi texting pada sebagian orang, tetapi tidak berarti semua penyuka chat mengalami kecemasan sosial.

Pertanyaannya kemudian, kapan chat sebaiknya berganti menjadi telepon? Melansir Verywell Mind, panggilan dapat dipertimbangkan ketika percakapan melalui pesan mulai terlalu panjang, membingungkan, emosional, atau membuat salah satu pihak merasa tidak dipahami.

Pada akhirnya, chat dan telepon bukan soal mana yang lebih baik. Keduanya memiliki fungsi berbeda. Pesan menawarkan fleksibilitas, jeda, dan kendali; telepon menghadirkan respons langsung serta nuansa suara yang lebih kaya.

Jadi, ketika seseorang tidak mengangkat telepon dan memilih mengetik “Ada apa?”, belum tentu ia sedang menjauh. Bisa saja ia hanya sedang memilih cara berkomunikasi yang menurutnya paling nyaman, praktis, dan sesuai dengan situasi.

Redaksi: GrivMedia
Editor: Redaksi

Iklan Jivantika Berita