Advertisement

Cakap-Cakap Mardongan: Kalau Bukan Sekarang Ditindak, Kapan?

Cakap-Cakap Mardongan: Kalau Bukan Sekarang Ditindak, Kapan?

“Cok, kadang yang bikin orang takut itu bukan gelapnya malam… tapi rasa tak pasti di kampung sendiri.”
— Mardongan, sambil meniup kopi di warung dekat terminal.


“Don, kau lihatnya?” tanya Ucok pelan.

“Apa lagi, Cok?”

“Di pemukiman pun sudah banyak cerita. Orang keluar masuk, jam tak kenal waktu. Warga resah.”

Mardongan mengaduk kopi, bunyi sendok berdenting kecil.

“Cerita itu harus diuji, Cok. Tapi kalau sudah banyak yang bicara, berarti ada yang perlu diperiksa.”

Ucok mengangguk.

“Bukan cuma di situ, terminal juga. Sama tempat hiburan malam. Orang bilang lebih ramai lagi.”

Ia tersenyum kecut.

“Katanya… ya begitulah.”

Mardongan menatap ke luar. Hujan turun tipis.

“Kalau sudah jadi ‘rahasia umum’, justru harus diuji secara resmi. Biar terang.”

Ucok menarik napas panjang.

“Warga sudah macam-macam, Don. Ada yang buat lagu sindiran. Ada juga yang sempat kumpul, demo kecil.”

“Lalu?”

“Sunyi lagi.”

Mardongan mengangguk pelan.

“Kalau keresahan sudah sampai jadi lagu, berarti itu sudah lama lah.”

Ucok menatap serius.

“Yang berat, Don… ada juga yang takut bicara.”

“Takut apa?”

“Takut disorot. Takut keselamatannya terganggu.”

Warung kopi sejenak hening.

Mardongan meletakkan gelasnya.

“Kalau warga sudah takut bersuara di tempat tinggalnya sendiri… itu tanda ada yang tak beres.”

Ucok menimpali cepat.

“Yang aneh lagi, kemarin itu yang di pemukiman sempat tutup.”

“Kenapa?”

“Katanya karena ada yang lewat.”

Mardongan mengangkat alis.

“Lalu yang lain?”

Ucok tersenyum pahit.

“Yang di tempat hiburan malam tetap jalan.”

Mardongan terdiam sejenak.

“Kalau begitu wajar kalau orang bertanya.”

Ucok mengangguk.

“Itu dia, Don. Kenapa perlakuannya terasa berbeda?”

Mardongan menjawab tenang.

“Pertanyaan seperti itu harus dijawab dengan aksi resmi. Bukan dibiarkan jadi dugaan.”

Ia menatap lurus ke depan.

“Kalau memang ada pelanggaran, tindak. Kalau tidak, jelaskan. Supaya publik tak hidup dari kabar.”

Ucok mengangkat gelas kopi.

“Kadang kita ini cepat kali dengar cerita, tapi lambat dapat kepastian.”

Mardongan tersenyum tipis.

“Karena cerita tak butuh prosedur.”

Ia menunjuk ke arah jalan.

“Tapi penindakan butuh keberanian dan tanggung jawab.”

Ucok mengangguk pelan.

“Berarti warga tak boleh dibiarkan sendiri?”

“Tidak lah.”

Mardongan berdiri perlahan.

“Rasa aman itu hak. Bukan keberanian pribadi.”

Hujan makin deras. Terminal di kejauhan tetap ramai.

Mardongan melangkah pelan, lalu berkata singkat,

“Kalau bukan sekarang ditindak…”

Ia berhenti sejenak.

“…kapan lagi?”


Refleksi Kopi

Keresahan warga bukan vonis, tetapi sinyal.
Ketika ia muncul berulang, meluas, dan disertai rasa takut, maka itu bukan lagi sekadar cerita, melainkan panggilan untuk memastikan.

Dugaan harus diuji. Fakta harus ditegakkan.
Dan rasa aman warga tidak boleh menunggu terlalu lama.


Keterangan Redaksi

Rubrik Cakap-Cakap Mardongan merupakan dialog reflektif berlatar warung kopi khas Sumatera Utara. Tokoh dan percakapan bersifat fiksi sosial yang merepresentasikan dinamika dan keresahan publik, tanpa merujuk pada individu atau pihak tertentu.

Iklan Jivantika Berita