Advertisement

“Hantu Putih” di Benteng Aceh: Ternyata Siasat Perang yang Membuat Serdadu Belanda Ketakutan

“Hantu Putih” di Benteng Aceh: Ternyata Siasat Perang yang Membuat Serdadu Belanda Ketakutan

GrivMedia — Malam di pedalaman Aceh akhir abad ke-19 itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Di sebuah benteng terpencil milik Belanda, jauh melewati hutan dan kebun tebu yang ditinggalkan pemiliknya, ketakutan perlahan menyusup ke barak para serdadu.

Bukan suara tembakan yang pertama kali membuat mereka gelisah, melainkan sosok berpakaian putih yang muncul setiap tengah malam dari area pekuburan di samping benteng.

Kisah itu dicatat Letnan H. Aars dalam buku Tjerita-Tjerita dari Negeri Atjee terbitan 1891. Ia menuliskan pengalaman Letnan J.P. Schoemaker saat bertugas di wilayah sekitar Kota Radja, kini Banda Aceh.

Awalnya, Schoemaker menganggap laporan anak buahnya sekadar ilusi malam. Namun selama empat malam berturut-turut, sosok misterius itu terus muncul dan memicu kepanikan para serdadu serta sekilwak asal Jawa yang berjaga di benteng.

Ketika lonceng menunjukkan pukul 12 malam, sosok putih itu kembali terlihat berjalan dari arah kuburan. Kembang api dan tembakan dilepaskan untuk menerangi lokasi. Tetapi bayangan itu menghilang seketika, hanya menyisakan suara tawa di tengah gelapnya malam.

Situasi berubah ketika seorang serdadu Jawa bernama Wakidin menawarkan diri menyelidiki misteri tersebut. Ia menyusup ke hutan hingga menemukan markas pasukan Aceh. Dari balik kolong rumah panggung, Wakidin mendengar percakapan yang membongkar seluruh rahasia.

“Hantu” itu ternyata bukan makhluk gaib.

Sosok putih tersebut diduga mata-mata pasukan Aceh yang sengaja menyamar untuk menebar ketakutan dan mengalihkan perhatian Belanda sebelum serangan dilancarkan. Dugaan itu menguat setelah pasukan Schoemaker menemukan lubang persembunyian senjata di area kuburan dekat benteng.

Belanda akhirnya lebih dulu menyerang. Pertempuran pecah dan sosok berpakaian putih ditemukan tewas dengan luka tembak di dada.

Meski pertempuran saat itu dimenangkan Belanda, kisah tersebut menjadi bukti bagaimana rakyat Aceh menggunakan taktik psikologis dalam perang gerilya melawan kolonialisme.

Sejarawan Merle C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia Since c.1300 juga mencatat, beberapa tahun setelahnya rakyat Aceh mampu membaca kelemahan Belanda dan memberikan perlawanan besar dalam perang yang berkepanjangan.

Di balik kisah “hantu Aceh” itu, sejarah menyimpan pesan lain: perang tak selalu dimenangkan dengan senjata, tetapi juga lewat kecerdikan dan keberanian membaca ketakutan musuh.

Sumber: “Tjerita-Tjerita dari Negeri Atjee” (1891), Merle C. Ricklefs, serta berbagai catatan sejarah Perang Aceh.

Iklan Jivantika Berita