Advertisement

Ketua AKPERSI Banten Kritik Pemberhentian Kepala SMAN 1 Cimarga: “Dunia Pendidikan Sedang Terbalik”

Tangerang, GrivMedia — Dunia pendidikan kembali diguncang paradoks. Seorang kepala sekolah yang menegakkan disiplin justru diberhentikan, sementara murid yang melanggar aturan dibela habis-habisan. Peristiwa di SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, ini menjadi cermin buram tentang arah moral pendidikan di negeri ini.

Kasus yang menimpa Kepala SMAN 1 Cimarga, Dini Fitri, berawal dari niat sederhana: menegakkan aturan kawasan tanpa rokok di lingkungan sekolah, sebagaimana diatur dalam Permendikbud Nomor 64 Tahun 2015. Namun, teguran keras terhadap seorang siswa yang tertangkap merokok justru berujung pada laporan polisi. Sang kepala sekolah pun dinonaktifkan.

“Guru menegakkan aturan, malah disalahkan. Siswa yang melanggar justru dibela. Dunia pendidikan kita benar-benar sedang terbalik,” ujar Ketua DPD Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (AKPERSI) Banten, Yudianto, C.BJ, Kamis (16/10).

Yudianto menilai keputusan pemberhentian tersebut mencederai martabat pendidik dan mengaburkan makna disiplin di sekolah. “Kepala sekolah itu bertindak sesuai hukum, bukan karena emosi. Tapi justru hukum yang kini memutar arah, menyerang pendidik yang menjalankan tugasnya,” katanya.

Menurut informasi yang dihimpun, peristiwa itu terjadi saat Dini Fitri memergoki seorang siswa merokok di belakang sekolah. Saat ditegur, siswa tersebut berbohong. Kepala sekolah kemudian memberikan teguran keras, namun tindakan itu dilaporkan oleh wali murid ke aparat penegak hukum.

“Anak yang berani merokok di sekolah dan berbohong pada gurunya sudah melanggar moral. Tapi yang lebih menyedihkan, orang tua justru melindungi kesalahan itu. Ini bukan hanya salah didik, tapi salah arah,” tegas Yudianto.

Ia menilai kasus ini menjadi sinyal bahaya bagi masa depan pendidikan Indonesia, ketika guru kehilangan kewibawaannya, dan anak kehilangan rasa hormat. “Jika guru tak lagi boleh menegur, maka sekolah tinggal nama. Pendidikan berubah jadi formalitas tanpa jiwa,” ujarnya.

Yudianto menutup pernyataannya dengan seruan moral yang tajam. “Jangan biarkan dunia pendidikan tunduk pada tekanan mereka yang tidak siap dididik. Anak harus dibina, bukan dibela saat salah. Karena jika yang salah terus dibenarkan, bangsa ini akan kehilangan arah.”

Laporan: Brata | Editor: Tim GrivMedia