Advertisement

Maling Tersinggung, Dunia Diminta Minta Maaf

Oleh: Ricki Hamdani, A.Md.Kom.
GrivMedia – Di sebuah kampung tempat logika sering kepleset sandal jepit, seorang maling tertangkap tangan mencuri. Tapi tunggu dulu, bukan dia yang merasa bersalah. Justru dia yang tersinggung!

Katanya, dia malu karena dipublikasikan. Bukan karena mencuri, tapi karena ketahuan. Permintaan maaf? Tidak datang ke rumah korban, cukup papasan di jalan, manyun sedikit, selesai. Kalau korban masih marah? “Terlalu baper,” katanya.

Tak cukup sampai di situ, ia malah mengancam, dan merasa dirinya dizalimi. “Martabat saya tercemar,” katanya. Publik pun heran: Sejak kapan mencuri jadi profesi terhormat?

Ibu-ibu ahli psikologi dari balik tirai menduga: ini kasus delusi kehormatan akut. Ia menuntut dihormati, padahal merampas hak orang lain.

Kini warga hanya bisa menyeruput kopi sachet sambil bergumam: “Dunia sudah gila. maling pun merasa jadi korban.”

Sementara itu, hukum tetap berjalan. Pelaku mungkin tak tahu bahwa sesuatu yang lebih besar dari rasa tersinggung sedang bergerak pelan tapi pasti: proses hukum, dan jika beruntung, kesadaran.

Catatan:
Tulisan ini disusun oleh warga waras. bukan pencuri, bukan penggertak, dan bukan figuran dalam drama jalanan. Ditulis dengan pendekatan satire dan sarkasme sebagai bentuk kritik sosial terhadap perilaku yang kehilangan arah moral dan tanggung jawab. Jangan biarkan kampung berubah jadi panggung sinetron premanisme. Yang salah harus tahu malu. Yang benar harus berani bicara.