Pada suatu malam di halaman Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unisma Bekasi, suara anak muda berbaur dengan desir angin dan lampu yang menggantung rendah. Mereka berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar dari usia mereka: bagaimana isi kepala manusia bisa menentukan wajah sebuah bangsa. Di tengah diskusi itu, nama Tan Malaka kembali dipanggil, pelan namun kuat, seolah ia belum pernah benar-benar pergi dari republik ini.
Tan Malaka, lelaki yang hidup di antara pelarian, penyamaran, dan keheningan, menulis Madilog pada 1943. Bukan di ruang kerja mewah, bukan pula di tengah kenyamanan. Ia menulis sebagai “Iljas Hussein”, tukang jahit yang menyembunyikan diri di Kalibata, menghindari pengawasan Jepang. Dari tempat sunyi itulah lahir sebuah buku yang hingga kini masih menjadi rujukan berpikir kritis: Materialisme, Dialektika, Logika, akronim yang ringkas, tetapi menyimpan revolusi senyap dalam cara melihat realitas.
Bagi Cania Citta, salah satu penggerak Malaka Project, Tan Malaka bukan sekadar pemberi gagasan. Ia adalah penyedia cara berpikir. Para pendiri bangsa, kata Cania, mewariskan nilai. Tetapi Tan Malaka mewariskan pisau analisis, cara memotong persoalan, meruntuhkan mitos, dan menelanjangi irasionalitas.
“Perang bukan hanya di medan tempur,” kata Cania di hadapan para mahasiswa. “Perang itu terjadi di kepala kita.”
Logika mistika, istilah khas Tan Malaka, masih hidup hingga hari ini. Sebuah cara berpikir yang bertumpu pada rasa, prasangka, dan keyakinan kosong; tidak menyentuh bukti maupun data. Tan Malaka menyebutnya “penjara dalam diri”, sebuah kolonialisme pikiran yang sering lebih kejam daripada penjajah bersenjata.
Dalam diskusi itu, aktivis 1998 Niko Adrian menambahkan sebuah catatan yang mengejutkan: Madilog sudah bicara perubahan iklim dan teknologi sejak 1943. Pemikiran Tan tidak hanya melampaui zamannya; ia juga menembus zaman kita.
Olisias Gultom, peneliti Asia Pacific Research Network, menggambarkan Madilog sebagai “jembatan” pemahaman antara alam, manusia, dan struktur kekuasaan. Ia menyebut banyak dari kita sering tertukar: logika dipakai untuk menjustifikasi keyakinan, sementara dialektika diabaikan ketika realitas berubah.
Dalam keseharian kita, irasionalitas itu tampak dalam beragam bentuk: dari keputusan publik yang tak bersandar pada data, hingga upaya mempertahankan “legacy” secara membabi buta. Logika yang mestinya membebaskan, justru berubah menjadi tembok penghambat.
Di titik inilah pemikiran Tan Malaka terasa menohok. Ia menulis bahwa perubahan bukan lahir dari mimpi, tetapi dari gerak material, dari aksi nyata, dari keberanian menghadapi fakta, betapapun pahitnya.
“Kalau kita lapar,” ujar Olisias, “kita mencari makan. Itulah antitesis yang riil. Bukan berharap kenyang hanya dengan memikirkan makanan.”
Begitu pula dengan politik. Perubahan tidak datang dari harapan belaka. Ia lahir dari pemahaman yang benar dan tindakan yang terukur, sebuah dialektika yang terus bergerak.
Dalam gelombang aksi mahasiswa pada 2024–2025, gema pemikiran Tan Malaka terdengar lagi. Dari seruan “Peringatan Darurat” hingga “Indonesia Gelap”, mahasiswa membawa keresahan kolektif ke jalan-jalan. Sejarah bergerak dalam spiralnya sendiri, dan nama Tan Malaka kembali muncul sebagai rujukan ketika bangsa ini bergulat dengan pertanyaan: Ke mana kita hendak melangkah?
Di masa hidupnya, Tan selalu menekankan dua medan perjuangan: yang eksternal, sistem, kekuasaan, kebijakan; dan yang internal, cara berpikir, keberanian, konsistensi.
Keduanya tak bisa dipisahkan. Tan menulis negara, tetapi ia juga menulis manusia. Mungkin karena itulah ia sering jadi sosok yang “tidak nyaman” bagi kekuasaan. Terlalu jujur, terlalu keras kepala, terlalu merdeka.
Namun justru dari ketidaknyamanan itu pemikiran besar lahir.
Hari ini, ketika masyarakat dicekoki banjir informasi yang bercampur rumor, opini yang menyaru data, dan kebijakan yang sering lahir dari ego, Madilog kembali relevan. Ia mengajak kita melakukan satu hal sederhana tetapi langka: berpikir dengan kepala sendiri.
Tan Malaka pernah berkata,
“Alang-alang tak akan musnah bila akarnya tidak dicabut.”
Mungkin bangsa ini belum selesai mencabut akar-akar itu: akar feodalisme, irasionalitas, fanatisme buta, dan ketakutan untuk bertanya.
Dan selama akar itu masih tertanam, suara Tan akan terus menggema, tidak sebagai nostalgia, tetapi sebagai kewajiban.
Sebab republik ini, sejak pertama kali digagasnya, adalah proyek berpikir sekaligus proyek keberanian.
Ditulis oleh Ricki Hamdani, A.Md.Kom.
Sang Penikmat Kopi yang menyimak dunia: gemar menjelajahi ruang rasionalitas












