“Sekarang orang luar bebas kali masuk kampung kita, Don. Tapi yang jaga bunga, bukan manusia.”
— Ucok, di bawah pohon jambu dekat warung ujung simpang.
Pagi itu, asap rokok bercampur dengan aroma kopi dari warung kecil di bawah pohon jambu yang mulai berbuah muda. Di situlah Mardongan dan Ucok duduk, membicarakan kampung mereka yang makin ramai oleh wajah-wajah tak dikenal.
“Banyak kali sekarang orang luar masuk kampung kita, Don,” ujar Ucok, menyulut rokoknya pelan.
“Entah siapa-siapa aja. Kadang jam satu pagi pun ada kulihat orang lewat. Tak kukenal mukanya, tapi bebas kali mondar-mandir. Kemananya RT? Tak tau lah aku, mungkin sibuk cari uang masuk lain.”
Mardongan menyeruput kopinya. “RT orang sini juga kan?” “Orang sini, Don,” jawab Ucok cepat. “Tapi udah tutup mata. Cemana lagi RT sebelah sana? RT-nya orang kampung luar. Udah gitu, makan gaji buta pula! Hahahaha.”
Mardongan tertawa kecil. “Kalau kepala desa?” tanyanya menggoda.
Ucok menepuk meja kayu yang sudah mengelupas catnya. “Masih sibuk selfie, Don. Tiap hari upload foto kerja bakti, tapi yang kerja orang lain. Kampung udah macam panggung, kepala desa jadi aktornya.”
Keduanya diam sebentar.
Angin pagi meniup daun jambu, menggoyang ranting yang menaungi warung kecil itu. Di kejauhan terdengar suara sepeda motor lewat, tapi tak ada yang menoleh, semua sudah terbiasa dengan lalu-lalang yang asing.
“Dulu, ingatnya kau, Don?” kata Ucok.
“Ada pos kamling di ujung jalan. Ada portalnya juga.
Sekarang? Posnya diratakan, dijadikan taman bunga.
Ada coretan muralnya juga, paten kali lah untuk berfoto, bukan untuk jaga kampung.”
Mardongan tersenyum tipis. “Jadi kalau maling masuk, yang nyambut bunga itu lah.”
Refleksi di Ujung Cangkir
Di bawah pohon jambu dan aroma kopi yang tak pernah habis, dua sahabat itu bicara tentang kampungnya. Bukan dengan marah, tapi dengan rasa kehilangan. Kehilangan rasa peduli, kehilangan kebersamaan.
Dulu ronda malam tak butuh kamera, cukup kentongan dan niat jaga. Sekarang, kampung lebih sibuk menanam citra daripada menjaga warga. Pos kamling berubah jadi taman bunga, indah tapi tak berguna untuk menahan bahaya.
Mardongan menatap ampas kopinya. “Cok,” katanya pelan, “kalau kepala desa mau menanam, tanamlah rasa tanggung jawab. Biar tumbuh pos kamling di hati, bukan cuma bunga di pinggir jalan.”
Ucok mengangguk. Asap rokoknya naik perlahan ke langit yang mulai terang. Di antara bau kopi dan gorengan, mereka tahu: yang paling butuh dijaga sekarang bukan lagi rumah dari maling,
tapi nurani dari lalai.
Keterangan Redaksi
Rubrik Cakap-Cakap Mardongan berisi obrolan ringan nan reflektif khas Sumatera Utara. Semua cerita disajikan dengan gaya tutur warga yang jujur, lugas, dan tetap berpijak pada kode etik jurnalistik.
“Tulisan ini adalah refleksi yang terinspirasi dari kehidupan masyarakat secara umum, bukan menggambarkan individu atau wilayah tertentu.”












