Ditulis oleh Uncle Bekmen, Sang Penikmat Kopi — yang percaya bahwa pahitnya hidup kadang lebih kental daripada pahit kopi yang menemaninya setiap hari.
BAB II — Rumah Baru, Infrastruktur yang Kacau, dan Hal-Hal yang Tak Terlihat
Ketika tabungan cukup, rumah impian mulai dibangun. Sang bibi menjadi bendahara kecil, mengatur uang, mencatat belanja. Namun anehnya, pembelian bahan bangunan justru ditentukan oleh lelaki itu dan kekasihnya. “Ibu tak mengerti bangunan,” begitu alasan mereka.
Bibi hanya menarik napas panjang. Ia tahu, sejak awal lelaki itu lebih banyak sok tahu daripada mengerti.
Suatu hari lelaki itu meminta uang membeli paku. Saat bibi menagih kembalian, ia menjawab enteng, “Sudah habis.” Jawaban sederhana yang jatuh seperti noda kecil, tetapi baunya terasa mengganggu.
Namun rupanya “noda kecil” itu bukan sekadar metafora.
Pada tahap awal pembangunan, ketika tanah timbunan belum dipadatkan, lelaki itu tiba-tiba berkata pada bibi, dengan suara yang tidak tahu malu: “Aku tadi sesak. Jadi aku berak di situ.” Ia menunjuk sudut gelap tanah yang bahkan belum disentuh semen.
Marah? Tentu saja bibi marah. Namun marah tak mengubah apa pun. Ia akhirnya diam, diam yang pahit, diam yang letih.
Baca Juga: BAB I — Kontrakan, Gosip, dan Tanda-Tanda dari Langit
Besoknya kakak perempuan itu mendengar cerita itu dari bibi. Ia menyampaikan kepada ibu. Dan ibu hanya menghela napas panjang, napas seorang ibu yang mendadak sadar bahwa rumah impiannya telah ternodai bahkan sebelum ia sempat masuk ke dalamnya. Napas seorang perempuan yang mungkin ingin menangis, tetapi memilih diam agar rumah itu tak runtuh sebelum selesai.
Namun hidup tetap berjalan, meski dengan luka kecil di fondasinya.
Rumah itu awalnya direncanakan selebar lima meter. Namun lelaki itu memerintah tukang memperluas menjadi tujuh. Ketika bibi datang dan melihat bentuk yang ganjil itu, ia berkata lantang, “Perkecil!” Akhirnya menjadi enam meter, kompromi antara pikiran sehat dan sok tahu.
Semen yang sudah dibeli disimpan di rumah bibi. Tapi lelaki itu memaksa menambah pembelian. Bibi menolak. Ia tahu jumlah itu cukup.
Saat atap seng terpasang dan tanah timbunan kurang sedikit, bibi bilang cukup satu truk. Namun lelaki itu tanpa berkonsultasi memesan dua. Tukang tanah yang lewat di depan rumah bibi hanya tersenyum, karena ia pun sudah membaca drama ini sejak lama.
Drama listrik pun menyusul. Ayah meminta abang ipar menanyakan biaya meteran listrik. Jawaban pihak PLN jelas: tentukan hari, mereka siap survei.
Namun sebelum kabar itu sampai, sang perempuan dan lelaki itu pergi sendiri ke kantor PLN.
Beberapa hari kemudian, lelaki itu berkata di hadapan ibu dan abang ipar, “Listrik mau dipasang token. Dua ratus ribu isinya.” Abang ipar bertanya, “Bukannya meteran?” Ia menjawab, “Kalo meteran lama. Jadi token aja.”
Abang ipar hanya tersenyum. Senyum lelah. Senyum seseorang yang tahu ia bisa membantu, tetapi untuk apa membantu orang yang tak tahu diri?
Ia masih cemas: Bagaimana jika biaya membengkak? Bagaimana jika ayah dan ibu mertuanya terseret masalah? Bagaimana kelak hidup adik iparnya jika dikepung kebodohan, buaian, dan cinta yang membutakan?
Namun ia akhirnya berdamai dengan gelisahnya.
Ia berhenti mendengar keluhan istrinya, muak, karena semua hanya berani bicara di belakang, namun melarangnya bicara tegas di depan.
Suatu senja, ayah duduk di beranda kontrakan, memandangi langit yang meredup. Rumah itu kelak selesai, tetapi prosesnya telah meninggalkan luka kecil yang tak terlihat.
Dan pada malam itu, mungkin untuk pertama kalinya, keluarga itu memahami satu hal:
Hantu bukan satu-satunya yang bisa menodai rumah. Kadang, yang lebih menakutkan adalah manusia yang datang perlahan, bersikap manis, menempel tanpa diminta, lalu meninggalkan jejak paling kotor di tempat yang seharusnya suci.
Bersambung…
















