Ditulis oleh Uncle Bekmen, Sang Penikmat Kopi — yang percaya bahwa pahitnya hidup kadang lebih kental daripada pahit kopi yang menemaninya setiap hari.
BAB I — Kontrakan, Gosip, dan Tanda-Tanda dari Langit
Keluarga itu sudah terlalu lama tinggal di kontrakan kecil di pinggir kampung. Dari ruang sempit itulah mereka menabung mimpi perlahan, mimpi tentang sebidang tanah di ujung desa, tempat rumah masa depan seharusnya berdiri.
Namun sebelum mimpi itu punya bentuk, badai kecil mulai bertiup dari celah pintu kontrakan. Bisik-bisik muncul tentang sang perempuan dan kekasihnya yang terlalu sering duduk terlalu rapat, bahkan tertidur berdekatan. Kabar itu bergerak pelan, tetapi cukup tajam untuk mengiris ketenangan.
Abangnya yang tinggal di luar kota pulang dengan wajah letih. Ia mendudukkan keduanya di ruang tamu yang sempit, memberi nasihat seperti sabda yang ingin mengguncang. Tetapi begitu ia pergi, keduanya kembali rapat, seperti perangko yang enggan dilepas air.
Tak ada yang berubah.
Abang ipar sang perempuan, lelaki yang diam-diam pandai membaca arah angin kehidupan, sebenarnya sudah lama mencium aroma masalah ini. “Adikmu itu keras,” katanya pada istrinya. “Dulu pacar beda agama pun ia bela habis-habisan. Ia tahu kapan harus meneteskan air mata agar ibu luluh.”
Kali ini pacarnya satu agama, tetapi katanya lebih rumit daripada yang pernah datang sebelumnya.
Ia ingin bicara pada ibu, tetapi sang istri menahan.
“Kalau kau bicara, nanti Ibu dan adik melawan,” katanya.
Maka ia memilih menjadi penonton:
penonton yang dipaksa diam, penonton yang sudah membaca akhir cerita bahkan sebelum babak dimulai.
Lelaki itu makin betah. Ia dulu sopir bus, lalu montir. Ketika sang perempuan berhenti bekerja, ia ikut berhenti. Mereka membuka usaha sarapan, tetapi yang memasak setiap pagi adalah sang ibu.
Lelaki itu makan di kontrakan keluarga, mandi di sana, bajunya dicuci, dan tidurnya menumpang di bengkel temannya. Hidupnya seperti cicak yang menemukan dinding baru untuk ditempeli.
Pernah, di hadapan kakaknya, lelaki itu berkata pongah,
“Gampang itu. Nanti aku yang cakap. Ayah tunduk sama aku.”
Kata-kata itu membuat sang kakak terdiam lama, antara marah dan tak percaya bahwa seseorang bisa begitu ringan menempatkan diri.
Di sudut batinnya, abang ipar sang perempuan semakin cemas. Jika rumah itu jadi berdiri, siapa yang akan memegang kuasa? Siapa yang akan merusak? Dan siapa yang harus menanggung kebodohan ini?
Ia takut ayah dan ibu mertuanya akan terbebani hutang dan persoalan karena sikap lelaki itu yang terlalu merasa menjadi pusat dunia.
Tetapi karena keluarga hanya berani bergunjing di belakang, dan ia dilarang bicara tegas, ia akhirnya menyerah. Ia memilih diam, diam yang panjang, diam yang diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan.
Bersambung…
















