“Cok, kau perhatikan dulu. Warung ini tiap malam penuh, tapi sunyinya macam kuburan,” kata Mardongan sambil menepuk kursi plastik yang bunyinya lebih keras dari suara orang di dalam.
Ucok menoleh sebentar dari layar ponselnya. “Iya juga ya, Don. Dulu yang ribut di warung ini cuma orang cakap-cakap. Sekarang yang ribut cuma jempol orang, scroll atas, scroll bawah.”
Mardongan mengedarkan pandangan, semua meja penuh. Orang duduk, minum kopi, tapi wajahnya menunduk. Yang terdengar hanya suara notifikasi, keyboard mengetik, dan sesekali tawa kecil yang entah ditujukan ke siapa.
“Kau tengok si Baling itu,” kata Mardongan sambil menunjuk dengan dagu. “Dulu kalau datang ke warung bawa cerita. Sekarang bawa charger.”
Ucok tertawa tipis. “Itulah dia, Don. Jaman sudah berubah. Tapi aneh juga, warung kopi rame manusia, tapi jiwa-jiwa di dalamnya macam lagi jauh merantau.”
Hujan turun pelan, mengguyur atap warung yang karatan.
“Aku rindu kali, Cok,” kata Mardongan lirih. “Rindu debat apa pun. Dari harga sayur sampai persiapan pesta kampung. Sekarang kalau mau dengar cerita, kita bukanya status orang.”
Ucok menghisap rokoknya, mengembus pelan. “Kadang aku heran, Don. Kita duduk semeja, tapi ngobrolnya lewat WhatsApp. Sama-sama di sini, tapi rasanya tetap jauh.”
Mardongan mengangguk. “Teknologi memang bantu banyak hal… tapi kok rasanya malah menjauhkan yang dekat.”
Keduanya terdiam.
Bukan karena tak ada yang mau dibicarakan, tapi karena dunia di layar terasa lebih menarik daripada wajah yang ada di depan mata.
Namun satu hal belum hilang: aroma kopi, uap panasnya, dan harapan kecil bahwa percakapan manusia belum benar-benar mati.
Refleksi Kopi
Warung kopi boleh penuh, tapi tanpa percakapan manusia hanya menjadi tamu di tempatnya sendiri. Sepahit apa pun kopi, ia selalu lebih jujur dari layar yang membuat kita lupa menatap sekitar. Sesekali letakkan ponsel, hirup aroma kopi, dan ingat: kedekatan tidak dibangun oleh sinyal, tapi oleh suara yang saling menyahut.
Keterangan Redaksi
Rubrik Cakap-Cakap Mardongan berisi obrolan ringan nan reflektif khas Sumatera Utara. Semua cerita disajikan dengan gaya tutur warga yang jujur, lugas, dan tetap berpijak pada kode etik jurnalistik.












