Tangerang, GrivMedia — Sejumlah proyek pembangunan dan renovasi sekolah di Kabupaten Tangerang diduga bermasalah, meski anggaran yang dikucurkan mencapai miliaran rupiah.
Forum Reporter Jurnalis Republik Indonesia (FRJRI) pun angkat suara. Sekretaris Umumnya, Arul, menyebut proyek-proyek tersebut bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan tanggung jawab moral terhadap masa depan generasi muda.
“Kami kecewa. Ini menyangkut masa depan anak-anak kita. Jangan karena ingin meraup untung pribadi, mutu dan tanggung jawab diabaikan. Ini bukan sekadar pelanggaran administratif, tapi kejahatan moral,” ujar Arul, Kamis (16/10).
Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan sejumlah proyek tidak rampung sesuai kontrak. Di antaranya SMPN 2 Kelapa Dua dan SDN Dukuh 5 Cikupa yang tampak terbengkalai: dinding belum diplester, atap bocor, hingga ruang belajar yang tak layak digunakan.
Bagi Arul, pemandangan itu seperti simbol kepedulian yang runtuh di atas pondasi korupsi. Ia mendesak Kepolisian dan Kejaksaan Negeri Kabupaten Tangerang segera turun tangan mengusut dugaan penyelewengan tersebut.
“Kalau ada unsur pidana, harus ada yang bertanggung jawab. Jangan biarkan kasus ini jadi catatan gelap dalam dunia pendidikan kita,” tegasnya.
Selain dugaan pengurangan material dan mark up anggaran, FRJRI juga menyoroti lemahnya pengawasan pemerintah daerah. Ia meminta agar setiap laporan penggunaan dana publik dapat diakses masyarakat.
“Transparansi adalah kunci. Kalau laporan anggaran dibuka, rakyat bisa ikut mengawasi. Jangan biarkan proyek pendidikan berubah jadi ladang bancakan uang rakyat,” tutup Arul.
Dalam dunia pendidikan, bangunan sekolah bukan hanya tembok dan atap—ia adalah cermin masa depan. Bila cermin itu retak oleh korupsi, maka pantulan harapan anak bangsa ikut pudar.
Laporan: Brata | Editor: Tim GrivMedia












