Niatnya memberi gizi, tapi di kelas justru banyak yang tersisa, apa yang sebenarnya terjadi di lapangan?
“Don, kau ada dengar cerita soal makan gratis di sekolah itu?” tanya Ucok, kursi plastiknya berdecit waktu dia duduk.
“Yang program gizi untuk anak-anak itu kan? Baguslah itu niatnya,” jawab Mardongan santai.
“Iya, niatnya memang bagus kali,” kata Ucok cepat. “Tapi di lapangan, ceritanya tak sesederhana itu, Don.”
Mardongan melirik. “Kenapa pula?”
Ucok merapatkan suara.
“Ada kawan awak guru cerita… tiap pembagian, kelas jadi macam kantin. Ribut, heboh. Tapi ujung-ujungnya, banyak yang tak habis.”
“Karena kenyang?”
“Bukan selalu,” jawab Ucok. “Kadang karena tak cocok. Ada yang bilang rasanya asing, ada yang cuma coba sedikit terus ditinggal.”
Mardongan mengangguk pelan.
Ucok lanjut lagi,
“Yang lebih gawat, Don… ada juga keluhan soal kualitas. Katanya kadang makanan kurang segar, ada juga anak-anak yang mengaku tak nyaman setelah makan.”
Warung kopi sejenak diam. Sendok di gelas berhenti berdenting.
“Kalau sudah begitu, itu bukan soal selera lagi,” kata Mardongan pelan.
“Betul,” jawab Ucok. “Makanya guru-guru itu bukan cuma capek ngatur makan. Tapi capek hati juga. Lihat makanan banyak terbuang, tapi juga khawatir sama yang dimakan anak-anak.”
Mardongan menatap keluar.
“Berarti ada yang perlu diperbaiki di cara jalannya,” katanya.
Ucok mengangguk.
“Iya. Kadang terkesan yang penting programnya jalan. Soal cocok atau tidak, habis atau tidak… belakangan.”
Mardongan tersenyum tipis.
“Kalau begitu, niat sudah bagus… tapi eksekusinya belum tentu pas sasaran.”
Ucok tertawa kecil.
“Pas kali itu.”
“Dan kalau terlalu dikejar target,” lanjut Mardongan,
“biasanya kualitas bisa ikut terabaikan. Itu yang harus dijaga betul.”
Ucok menyandarkan badan.
“Makanya sekarang mulai banyak yang bertanya. Ini sudah benar-benar untuk anak-anak… atau masih perlu dibenahi dari dalam?”
Mardongan menghabiskan kopinya.
“Cok, program besar itu tak cukup hanya niat baik. Harus ada telinga yang mau dengar cerita dari bawah.”
Ucok tersenyum.
“Supaya kotak makan itu tak cuma dibagi… tapi benar-benar dimakan dengan baik.”
Refleksi Kopi
Program pemberian makanan bagi pelajar merupakan langkah penting untuk mendukung pemenuhan gizi anak. Niat tersebut patut diapresiasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas generasi mendatang.
Namun, berbagai cerita dari lapangan menunjukkan perlunya evaluasi berkelanjutan, terutama terkait kualitas makanan, kesesuaian dengan kebiasaan lokal, serta sistem distribusi dan pengawasan.
Keluhan yang muncul dari guru dan siswa menjadi masukan penting agar program tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga efektif dan tepat sasaran.
Karena pada akhirnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah yang dibagikan, tetapi dari manfaat nyata yang diterima.
Keterangan Redaksi
Rubrik Cakap-Cakap Mardongan merupakan dialog reflektif bernuansa lokal Sumatera Utara yang mengangkat fenomena sosial secara umum. Tokoh dan percakapan bersifat fiktif dan tidak merujuk pada individu atau pihak tertentu.













Leave a Reply