Advertisement

Ritual Nyello’ Aing Tujuh Sumur Keraton Parupuh Madura, Tokoh Adat Sampaikan Pesan Moral Kepemimpinan

Ritual Nyello’ Aing Tujuh Sumur Keraton Parupuh Madura, Tokoh Adat Sampaikan Pesan Moral Kepemimpinan

Madura, GrivMedia — Rangkaian Ritual Adat Nyello’ Aing Tujuh Sumur Keraton Parupuh Aryo Menak Senoyo Madura berlangsung khidmat dan lancar sebagai kelanjutan dari Haul Agung Raja Aryo Menak Senoyo dan bagian dari Upacara Adat Song Osong. Prosesi sakral ini digelar selama tujuh hari berturut-turut di sejumlah sumber mata air keraton.

Tokoh adat Keraton Parupuh Aryo Menak Senoyo Madura, Kyai Raden Miftahussurur Fatah, SE.,, menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas terselenggaranya seluruh rangkaian ritual tersebut. Menurutnya, Nyello’ Aing bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan pengingat moral dan spiritual tentang hakikat kepemimpinan dalam adat, agama, dan kehidupan bermasyarakat.

“Ritual adat harus dihayati. Ia mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan kemuliaan pribadi. Kekuasaan wajib tunduk pada nilai ketuhanan, adat, serta kemaslahatan umat,” ujar Kyai Raden Miftahussurur Fatah dalam keterangannya, Selasa (20/1).

Ia menegaskan, keberhasilan rangkaian ritual ini menjadi tausiyah kebudayaan bagi para pemimpin, khususnya calon raja, agar senantiasa menempatkan diri sebagai pelayan umat, penjaga adat, serta penegak keadilan dan akhlak.

Sebagai bagian dari Forum Komunikasi Majelis Adat Indonesia (MAI), Kyai Raden Miftahussurur Fatah bersama para raja, sultan, dan tokoh adat Nusantara secara konsisten menyerukan pentingnya merawat nilai-nilai luhur adat sebagai penyangga moral bangsa.

Ritual Nyello’ Aing dilaksanakan selama tujuh hari, setiap pagi pukul 06.00–10.00 WIB, sebagai prosesi penyucian lahir dan batin calon raja serta bentuk penghormatan terhadap sumber kehidupan. Air dari tujuh sumur sakral ditempatkan di Langgar Keraton sebagai simbol pemusatan niat dan doa.

Rangkaian ritual ini berakar pada kearifan lokal dan Hukum Adat Kutara Manawa, yang diwariskan turun-temurun sebagai pedoman kehidupan keraton dan masyarakat adat. Usai prosesi Nyello’ Aing, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama serta tadarus Al-Qur’an selama 40 hari dan berlanjut pada bulan Ramadan, sebelum memasuki tahapan Upacara Adat Dhudhus, sebagai pengingat amanah kepemimpinan calon raja.

Laporan: Tim GrivMedia | Editor: Redaksi