Advertisement

Syair Taufik Ismail untuk Sahabatnya yang Mengabdikan Diri Selama 15 Tahun di Waimital

GM – Pada 1979, seorang sastrawan terkenal, Taufik Ismail, mengabadikan sosok sahabatnya, Antua Mohamad Kasim Arifin, seorang mahasiswa IPB asal Aceh, yang mengabdikan dirinya selama 15 tahun untuk membangun dan memajukan pertanian di Waimital, Pulau Seram, Maluku, dalam sebuah syair.

Taufik Ismail menuliskan sebuah syair berjudul, “Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang pada Hari Ini Pulang ke Almamaternya”

Dia mahasiswa tingkat terakhir,
ketika tahun 1964 pergi ke pulau Seram,
untuk tugas membina masyarakat tani di sana.
Dia menghilang, 15 tahun lamanya.
Orangtuanya di Langsa memintanya pulang,
IPB memanggilnya, untuk merampungkan studinya,
tapi semua sia-sia.

Dia di Waimital jadi petani, Dia menyemai benih padi,
orang-orang menyemai benih padi.
Dia membenamkan pupuk di bumi,
orang-orang membenamkan pupuk di bumi.
Dia menggariskan strategi irigasi,
orang-orang menggali tali air irigasi.
Dia menakar klimatologi hujan,
orang-orang menampung curah hujan.
Dia membesarkan anak cengkeh,
orang kampung panen raya kebun cengkeh.
Dia mengukur cuaca musim kemarau,
orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau.
Dia meransum gizi sapi Bali,
orang-orang menggemukkan sapi Bali.
Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah,
orang-orang memasang dinding dan atapnya.
Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka,
anak desa jadi membaca dan menyerap matematika.
Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi.
Kasim Arifin, di Waimital
Jadi petani.

Baca juga : Kisah Inspiratif Mohamad Kasim Arifin di Tanah Waimital : Pengabdian Tanpa Batas

Dia berkaus oblong, Dia bersandal jepit,
Dia berjalan kaki 20 kilo sehari.
Sesudah meriksa padi, dan tata palawija,
Sawah, dan ladang orang-orang desa,
Dia melintas hutan.
Dia menyeberang sungai, terasa kelepak elang,
bunyi serangga siang,
sengangar tengah hari, cericit tikus bumi,
teduh pohonan rimba.
siang makan sagu, air sungai jernih,
minum dan wudhukmu.
bayang-bayang miring, siul burung tekukur,
bunga alang-alang, luka-luka kaki, angin sore-sore,
mandi gebyar-gebyur.
simak suara azan, Jamaah menggesek bumi,
anak petani mengaji, ayat-ayat alam.
anak petani diajarnya, logika dan matematika.
lampu petromaks bergoyang,
angin malam menggoyang.
Kasim merebah badan di pelupuh bambu,
tidur tidak berkasur.

Dia berdiri memandang ladang-ladang,
yang ditebas dari hutan rimba.
di kakinya, terjepit sepasang sandal,
yang dipakainya sepanjang Waimital.
ada bukit-bukit yang dulu lama kering, awan tergantung di atasnya,
mengacungkan tinju kemarau yang panjang.
ada bukit-bukit yang kini basah,
dengan wana sapuan yang indah,
Sepanjang mata memandang.
dan perladangan yang sangat panjang,
kini telah gembur, air pun berpacu-pacu.
dengan sepotong tongkat besar, tiga tahun lamanya.
bersama puluhan transmigran,
ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang,
dikais-kaisnya tanah kering kerontang,
dan air pun berpacu-pacu,
delapan kilometer panjangnya.
tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja,
mengairi tanah 300 hektar luasnya.
Kulihat potret dirimu, Sim, berdiri di situ,
Muhammad Kasim Arifin, di sana,
berdiri memandang ladang-ladang,
yang telah dikupasnya dari hutan rimba.
kini, sekawanan sapi Bali mengibas-ngibaskan ekor
di padang rumput itu,
rumput gajah yang gemuk-gemuk,
sayur-mayur yang subur-subur.
awan tergantung di atas pulau Seram,
dikepung lautan biru yang amat cantiknya.
dari pulau itu, dia telah pulang.
Dia yang dikabarkan hilang,
lima belas tahun lamanya di Waimital.
Kasim mencetak harapan,
di kota kita mencetak keluhan
(Aku jadi ingat masa kita diplonco dua puluh dua tahun yang lalu)
dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca,
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi,
kuludahi bayanganku di air itu, karena rasa maluku.
ketika Aku mengingatmu, Sim,
di Waimital engkau mencetak harapan, di kota, kami…
padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah awan yang tergantung di atas kota juga.
Kau kini telah pulang, Kami memelukmu. (1979)

Saat itu, Kasim dikabarkan hilang 15 tahun lamanya, sejak melaksanakan program pengerahan mahasiswa pada tahun 1964, untuk memperkenalkan program panca usaha tani, ternyata Ia menetap di Waimital, Pulau Seram, Maluku.

Kasim pernah ditawarkan kesempatan untuk meninjau pertanian di Amerika Serikat, namun, sambil tertawa Kasim berkata bahwa pertama-tama jangankan bahasa Inggris, bahasa Indonesianya saja sudah banyak lupa. kemudian yang terpenting, katanya, apa manfaatnya meninjau pertanian di sana, yang berbeda dengan pertanian kita di sini, Indonesia.

Kasim memang telah lama tiada, tapi kisah inspiratifnya tetap selalu terkenang. Dialah mahasiswa sejati, yang akan selalu dikenang di Negeri ini.

*Dikutip dari berbagai sumber, salah satunya, “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (2000)”