Advertisement

Kisah Inspiratif Mohamad Kasim Arifin di Tanah Waimital : Pengabdian Tanpa Batas

GM – Sebuah kisah inspiratif tentang pengabdian tanpa pamrih, yang dilakukan oleh seorang mahasiswa jurusan agronomi fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Mohamad Kasim Arifin.

Mohamad Kasim Arifin, oleh GrivMedia

Mahasiswa IPB yang lahir pada 18 April 1938 itu sebelumnya tinggal di asrama kampus Ekasari sejak 1958. pada 1964, Kasim dan beberapa tim menerapkan sistem panca usaha tani di Desa Tunggak Jati dan Tanjung Pura, Karawang, yang digagas oleh kampus IPB. dan kemudian berhasil.

Sehingga beberapa mahasiswa disebar ke seluruh Indonesia dalam program pengerahan mahasiswa, yang kini dikenal dengan sebutan Kuliah Kerja Nyata (KKN), guna menerapkan sistem tersebut. penugasan itu pun membawa Kasim ke Waimital, sebuah desa terpencil di Pulau Seram, Maluku.

Dia mengajarkan para petani teknik-teknik pertanian yang lebih baik: mulai dari cara mengolah tanah yang benar, membangun sistem irigasi, hingga meningkatkan hasil panen yang selama ini menjadi impian masyarakat setempat.

Meskipun masa tugasnya hanya tiga bulan, Kasim membuat keputusan yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh banyak orang: Dia memilih untuk memperpanjang pengabdiannya di Waimital. Kasim merasakan adanya panggilan yang lebih dalam untuk tetap tinggal disana. Dia merasa bahwa tugasnya belum selesai dan banyak yang harus dilakukan untuk membantu masyarakat setempat.

Pengabdiannya berlanjut hingga 15 tahun. saat itu, teman-temannya melangkah wisuda, memasuki dunia kerja dan hidup mapan. Orangtua, serta Rektor IPB, Profesor Andi Hakim Nasution pun memintanya untuk kembali, namun Kasim yang terlanjur jatuh cinta dengan Waimital memilih tetap bertahan disana.

Menurut Afrizal Akmal, yang akrab disapa Akmal Senja, dalam situs hutan-tersisa.org, “Kasim menolong masyarakat desa untuk menjadi mandiri. bersama-sama membuka jalan desa, membangun sawah-sawah baru, membuat irigasi, dan semua itu dilakukannya tanpa bantuan satu sen pun dari pemerintah. Masyarakat setempat sangat menghargai kesederhanaan, kedermawanan dan tutur katanya yang lembut. oleh masyarakat setempat, Dia disapa sebagai Antua, sebuah sebutan bagi orang yang dihormati di Maluku.”

Kemudian, Saleh Widodo, salah seorang sahabat sekaligus utusan khusus Rektor IPB datang membujuknya, akhirnya Dia kembali ke kampus untuk menerima gelar insinyur pertanian istimewa; atas jasanya membangun sektor pertanian di Pulau Seram.

Tangkapan Layar Kanal YT Himpunan Alumni IPB

Kasim juga mendapat tawaran pekerjaan untuk meninjau pertanian di Amerika. tapi, setelah mendapat gelar, Kasim lebih memilih untuk pulang ke Waimital. pengabdian tanpa batas tersebut akhirnya membuahkan hasil. Desa Waimital menjadi desa paling maju se-Kabupaten Seram Bagian Barat.

Setelah urusannya selesai, Kasim pulang ke kampung halamannya, kemudian bekerja sebagai dosen di Universitas Syah Kuala, Banda Aceh.

Namanya (Ir. Kasim Arifin) diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Kecamatan Kairatu dan menjadi nama gugus depan gerakan pramuka Seram Barat. di tahun 1982, Kasim juga mendapat penghargaan Kalpataru dari Pemerintah.

Tangkapan Layar Kanal YT Himpunan Alumni IPB, Ketika Kasim dapat penghargaan Kalpataru

Kisah inspiratifnya juga diabadikan oleh dua sastrawan Indonesia. Taufik Ismail, dalam puisi berjudul “Syair untuk seorang petani dari Waimital, Pulau Seram, yang pada hari ini pulang ke almamaternya” (1979), dan Hanna Rambe, dalam buku berjudul “Seorang Lelaki di Waimital” (Sinar Harapan, 1983).

Kisah Mohamad Kasim Arifin adalah sebuah narasi yang menggugah semangat pengabdian. Kasim mengukir nama dalam sejarah perjalanan hidup; bahwa pengabdian tanpa pamrih adalah bentuk cinta yang paling tulus, dan keberanian untuk memilih jalan yang benar, meski berbeda dengan orang lain.