GrivMedia – Di lereng berhutan Aek Sibulbulon, Humbang Hasundutan, gema sejarah masih bergaung: letusan senjata, pekik “Ahu Si Singamangaraja!”, dan langkah pasukan marsose yang merangsek ke semak. Pada 17 Juni 1907, drama penutup perlawanan Batak terhadap kolonialisme Belanda berlangsung di sana. Namun, lebih dari seabad kemudian, siapa sesungguhnya yang menembak mati raja imam Batak itu masih menjadi perdebatan panjang.
Sebuah penelitian yang ditulis Prof. Dr. Uli Kozok, akademisi University of Hawai‘i at Mānoa, dalam jurnal Lembaran Sejarah Vol. 20/2024 menelisik ulang arsip kolonial, kesaksian keluarga, dan cerita rakyat yang berlapis mitos. Hasil kajian itu menggoyahkan narasi resmi yang selama ini diyakini: bahwa Kapten Hans Christoffel adalah penembak tunggal.
“Bukti paling kuat justru mengarah kepada Johannes Rotikan, marsose asal Minahasa yang dianugerahi Militaire Willems-Orde atas keberaniannya mengepung dan menembak Singamangaraja,” tulis Prof. Dr. Uli Kozok.
Rotikan bukan satu-satunya nama yang membayangi tragedi itu. Adranus Lohy dari Seram disebut bertanggung jawab atas tewasnya dua putra Singamangaraja, Patuan Nagari dan Patuan Anggi. Kedua prajurit itu menerima penghargaan kehormatan dari Kerajaan Belanda pada 1908, jejak yang memperkuat dugaan bahwa peristiwa di jurang itu bukan sekadar insiden spontan, melainkan eksekusi yang diam-diam dilegalkan.
Namun, sejarah tak hanya hidup dalam dokumen. Dari sisi lain, suara Rinsan boru Sinambela, putri sulung sang raja, mengalir lewat catatan Radja Tampoebolon (1944). Dalam kesaksian yang getir, ia mengaku melihat ayahnya telah menyebut identitasnya dan menyerahkan pedang pusaka, sebelum peluru marsose menembus dada Sang Raja. “Ayah sudah menyerah, tapi tetap ditembak,” tulis Tampoebolon, menyalin kepedihan Rinsan.
Di balik sengketa tafsir itu, kisah Singamangaraja memotret benturan nilai: spiritualitas melawan kekuasaan, tanah adat melawan Pax Neerlandica. Beliau bukan sekadar pemimpin perang, melainkan simbol moral yang membuat kolonialisme gamang. Dalam strategi Belanda, ia harus dihapus, baik tubuh maupun legenda.
Sejarawan Belanda J. Klein Nagelvoort bahkan menduga, pilihan pemerintah kolonial menunjuk Christoffel, perwira terkenal bengis, bukan tanpa maksud. “Perintah resmi memang ‘hidup-hidup’, tetapi situasi dan karakter komandan membuatnya sulit dipercaya,” tulisnya dalam Geschiedenis Magazine (2017).
Kini, lebih dari seratus tahun sesudah darah merah membasahi tanah Sibulbulon, sejarah memberi pelajaran: kebenaran tak selalu tercetak dalam laporan resmi. Ia kerap bersembunyi di balik arsip yang hilang, penghargaan yang diserahkan dengan senyum, atau air mata yang ditahan seorang putri.
Singamangaraja XII telah gugur, namun kisahnya tetap hidup, mengingatkan bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan tak selalu selesai dengan dentuman senjata. Ada ruang bagi suara yang enggan dilupakan, ruang bagi fakta yang terus mencari cahaya.
Tim GrivMedia
Catatan Redaksi:
Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian Prof. Dr. Uli Kozok yang dimuat dalam jurnal Lembaran Sejarah Vol. 20/2024. Pemaparan dilakukan dengan gaya populer untuk memudahkan pembaca memahami temuan akademis terkait sejarah wafatnya Singamangaraja XII. Publikasi ini telah mendapatkan izin dari Prof. Dr. Uli Kozok sebagai penulis penelitian yang dirujuk.












