Advertisement

Karya Pramoedya Terus Bergema di Jerman: Dari Pulau Buru ke Panggung Koln

GrivMedia – Dari sel sunyi Pulau Buru, suara Pramoedya Ananta Toer tak pernah benar-benar padam. Di tanah asing, justru gaungnya kian nyaring. Di Koln, Jerman, karya-karya sang maestro sastra Indonesia kembali dibacakan dengan penuh penghayatan pada 27 September 2025, dalam acara literatur bertajuk Die Feder ist stärker als das Schwert (Pena Lebih Kuat dari Pedang).

Kalimat-kalimat Minke, tokoh utama dalam Bumi Manusia, menggema di ruang Melanchthon-Akademie, seolah menembus sekat waktu dan sejarah. “Tulisan-tulisan Pramoedya mampu menangkap atmosfer tradisi yang masih relevan hingga kini,” ujar Albert Klutsch, aktivis HAM Jerman yang membacakan kutipan-kutipan Pram dengan suara bergetar.

Sabine Muller, penerjemah sastra Indonesia di Jerman, menegaskan bahwa Bumi Manusia menjadi pintu gerbang sastra Indonesia ke ranah Eropa. “Ia penulis pertama Indonesia yang karyanya diterjemahkan ke bahasa Jerman. Kalimat-kalimatnya mampu menciptakan dunia yang sangat hidup,” katanya.

Namun, ironi pun tak bisa dihindari. Di tanah kelahirannya, Blora, nama besar Pramoedya masih kerap terlupakan. Seniman mural Isrol Medialegal mengaku banyak warga justru bertanya siapa Pram ketika kutipan-kutipannya terpampang di dinding.

Bagi pegiat literasi di Jerman, Pramoedya bukan sekadar penulis. Ia adalah cermin bangsa, pengingat sejarah, sekaligus saksi luka kemanusiaan. Di negeri jauh itu, karya-karyanya terus dibaca, didiskusikan, dan dianggap relevan dengan zaman yang bergolak.

Sementara di tanah air, pertanyaan menggantung: sudahkah bangsa ini benar-benar merawat warisan sastranya sendiri?


Disunting oleh Tim GrivMedia, berdasarkan laporan Kompas.com (30/9/2025) dan DW Indonesia.